SEPUTAR PROFESI

"LPM PROFESI FTI UII Adakan Workshop Jurnalistik Sabtu (01/11)"

Untaian "Kata" PROFESI

Lembar berisikan berita milik PROFESI

SEPUTAR PROFESI

Pengrajin Gerabak sedang membakar karyanya agar kokoh.

Diskusi Bersama

Para Caleg (Calon Legislatif) KM FTI dalam acara Diskusi Bersama oleh LPM PROFESI

Pekan Taaruf FTI UII 2014

Suasana Pekan Taaruf (Pekta) 2014 di lingkungan FTI UII.

Showing posts with label Liputan Khusus. Show all posts
Showing posts with label Liputan Khusus. Show all posts

4/30/15

CEPT; Ujian Wajib Mahasiswa UII

Oleh: Nisa, Fanya

“Ini adalah proses pembelajaran. Jangan ini dianggap sebagai ujian untuk menghambat kelulusan”

Universitas Islam Indonesia menuntut mahasiswanya untuk memiliki kompetensi tertentu dalam bahasa inggris. Kualitas kompetensi dapat dibuktikan dengan sertifikasi dari institusi atau lembaga penguji manapun. Namun kini sertifikasi tersebut harus dilakukan melalui Certificate of English Proficiency Test (CEPT) yang dikeluarkan oleh CILACS UII. Level minimal bagi mahasiswa untuk dapat dinyatakan lulus CEPT adalah nilai 422, sehingga mereka berhak mengikuti ujian pendadaran.
Kebebasan mahasiswa memilih lembaga penguji memberikan celah terjadinya penyalahgunaan. Kurang lebih seratus mahasiswa dilaporkan telah teridentifikasi melakukan pemalsuan sertifikat pada tahun 2014. Atas dasar inilah UII mewajibkan sertifikasi dilakukan di CILACS sebagai satu-satunya lembaga yang mampu dikendalikan secara langsung oleh pihak universitas.
CEPT sebagai alat penguji kompetensi bahasa inggris resmi yang dikeluarkan oleh CILACS menampilkan kondisi normal dalam setiap tes. Namun banyak mahasiswa yang mengaku kurang mendapatkan fasilitas yang memadai, misalnya terdengar suara-suara bising dari luar sehingga mengganggu konsentrasi. Jarak antara kursi satu peserta dengan peserta lain juga teralu berhimpitan. Hal ini dianggap mengganggu kenyamanan dan kelancaran tes, terutama saat listening test.
Perihal fasilitas, diakui oleh Wakil Rektor I UII Ilya Fadjar Maharika, saat ini pihaknya sedang mengupayakan perbaikan fasilitas yang tindak lanjutnya pada Wakil Rektor II. Langkah ini sebagai bentuk keselarasan terhadap peraturan yang telah dibuat. “Yang jelas saat ini sedang diupayakan perbaikan fasilitas. Misalnya, CILACS akan dipindah ke kampus terpadu dengan investasi baru. Kami ingin sembodo juga, universitas punya CILACS dan kita perkuat CILACS supaya lebih bagus,” tambah Ilya. Meski demikian, Ilya yakin persepsi sulit masih tetap ada jika dibandingkan dengan institusi lain di luar yang tidak memiliki jaminan. Perbaikan fasilitas juga akan segera dilakukan dalam bentuk penambahan kelas di kampus terpadu agar tes dapat lebih sering dilaksanakan dan tidak harus dilakukan di CILACS pusat. Namun, semua itu butuh proses dan tidak dapat dilakukan secara instan.
Lebih jauh mengenai peraturan wajib lulus tes CEPT, Ilya menekankan bahwa ujian-ujian yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa merupakan proses pembelajaran, sehingga mahasiswa dituntut untuk mempersiapkan diri sejak awal karena ujian-ujian tersebut adalah proses belajar yang sifatnya mandiri.“Ini adalah proses pembelajaran, jangan dianggap sebagai ujian untuk menghambat kelulusan,” tutur Ilya. Ujian-ujian yang diadakan pihak universitas adalah dalam rangka membangun paradigma bahwa ujian sebagai proses pembelajaran (evaluation as learning process), bukan ujian atas proses pembelajaran (evaluation of learning process). “Jadi sebagai bagian dari proses pembelajaran itu sendiri. Ini yang harus betul-betul diingat mahasiswa. Jangan salahkan sistem, jangan mengutak-atik dispensasi ketika sudah diberi batas akhir waktu sebetulnya sudah 4 tahun disediakan.”

Sejauh ini UII telah menyediakan fasilitas yang mendukung proses pembelajaran, mata kuliah yang mendukung, dan beberapa prodi telah memiliki program khusus yang mendukung proses peningkatan kompetensi mahasiswa. “Edukasi tidak semua dicekoki, apalagi di perguruan tinggi,” ungkap Ilya di akhir pernyataannya.

12/1/14

Suwarti, Wanita Konstruksi

Sebelum mentari pagi menyapa, aku harus sudah bangkit dari kepulasanku hingga larut nanti. Bismillah, aku niatkan ini demi buah hatiku. Begitulah kiranya motivasi hidup Suwarti, salah seorang wanita pekerja konstruksi boulevard UII.


Empat bulan terhitung awal penggarapan, Suwarti (47) tinggal di gubuk konstruksi proyek boulevard UII. Ini bukanlah kali pertama ia terjun ke dunia konstruksi, melainkan sejak usia 15 tahun. Suwarti merelakan masa remajanya terenggut oleh kemuliaan menafkahi kedua orang tuanya. Kini, setelah mereka tiada, derita itu tetap saja melekat dikesehariannya. Suwarti masih harus kesana-kemari menjadi buruh proyek untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama gadis bungsunya yang berusia 18 tahun. Sementara, sang suami pergi meninggalkannya tiga tahun silam dengan hutang-hutang yang masih menumpuk, kini rumah Suwarti akan disita jika tak sanggup melunasi semua hutangnya.
Pukul 08.00, semua pekerja harus sudah berada di lokasi proyek, begitu juga Suwarti harus sudah menyiapkan segala keperluan konsumsi untuk makan siang bagi mereka. Tugas Suwarti sebenarnya hanya melayani konsumsi, namun tak jarang ia terjun ke lokasi untuk menggali lubang, memecah batu, dan mengangkut paving block hingga waktu Zuhur tiba. Meski tiada upah tambahan, Suwarti mengikhlaskan apa yang telah ia kerjakan.
Waktu menunjukkan pukul 13.00, Suwarti siap kembali ke lokasi untuk melanjutkan pekerjaannya. Lelah, penat, dan rasa ingin berontak, itulah gambaran dari perasaan Suwarti. “Kalau gak kerja, mau makan apa?” ungkap wanita berdarah jawa itu. Dengan kondisi kaki yang belum sempurna sembuh akibat tertabrak mobil, peristiwa dua tahun silam. Semua ini dilakukan dengan alasan buah hatinya dan menghilangkan stress karena lilitan hutang sang suami.
“Itu, menyetel radio, nyanyi-nyanyi, stress hilang,” ungkap Suwarti dengan senyum bahagia menunjuk radio di pojok.
Tidak ada yang menginginkan diri menjadi buruh proyek, namun karena tuntutan hidup, mereka memaksakan diri untuk terjun ke dunia konstruksi. “Itulah namanya hidup, Mas,” tegas Evi Tri Sasono, Manajer Lapangan proyek pembangunan boulevard UII kepada LPM Profesi. “Mereka tidak seberuntung kita. Tinggal kuliah, tinggal makan, masih malas, “tambahnya.
Dalam dunia konstruksi, tiada beda porsi baik itu wanita maupun lelaki. Wanita juga tetap melakukan kerja berat, karena semua dianggap sama ketika berada di dunia kerja. Yang jelas, pekerjaan ini selesai pada waktu yang telah di jadwalkan.
Suwarti kerap kali mengalami kelelahan, pernah suatu saat ia terpleset di kamar mandi gubuk konstruksinya. Ketika itu tiada orang satupun di sana, karena pada malam hari hanyalah Suwarti seorang diri yang tinggal di gubuk itu.”Kecapekan, keseleo, manggil-manggil gak ada orang, ngesot-ngesot, basah,” tutur Suwarti dengan nada polos.
Bagaimana tidak, dari pukul 13.00 tak hanya selesai pada pukul 16.00. Usai Sholat Isya, Suwarti melanjutkan pekerjaan memindahkan paving block ke lokasi yang hendak digunakan esok hingga malam hari. Ia melakukan itu dengan sendiri, terkadang saat ditemani dengan rekan pekerja, mereka melakukan secara bersama “Gak pernah tidur siang, enak kerja keluar keringat,”ungkap wanita itu dengan tulus.
Prihatin dan kasihan, perasaan itu yang dirasakan Toko, rekan kerja yang juga dipercaya sebagai Asisten Mandor. “Kenal sejak kecil, kerja buruh kesana-kemari. Prihatin, sama-sama gak punya” jelas Toko jujur.
Jika ditanyai impian, jawabannya pasti sama dengan para ibu pada umumnya yaitu ingin membahagiakan buah hatinya. “Maunya menyenangkan anak, bayar bank (hutang .red),” harapnya. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya jatuh di lubang yang sama. Mereka ingin anaknya lebih bahagia ketimbang saat ini, saat bersama orang tua. Meski Suwarti single parent, ia tetap mengusahakan agar anaknya bahagia dengan mencarikan pekerjaan yang layak untuk gadis remajanya.
Terik tak mengurungkan niatnya untuk mengubah hidup, berbagai cara ia lakukan dengan melakukan sholat, Puasa Senin, dan Puasa Kamis. “Puasa Senin Kamis biasa, kuat, biasa” tuturnya.
            Berat rasa untuk kembali ke rumah miliknya karena lilitan hutang. “Saya belum berani pulang” ungkapnya. Rumah kesayangannya sudah tiga tahun ditinggalkan tanpa ada perawatan. Ia tidak mengharapkan imbalan lebih, Tak cukup upah kerja borongannya itu jika dipikirkan, ia ikhlas menyerahkan semua yang terjadi hanya kepada Yang Maha Esa. (M. Khoirul Ummam)

Foto: PROFESI/Ummam, 
“Suwarti sedang menyiapkan konsumsi di gubuk konstruksi proyek pembangunan boulevard UII”

Foto: PROFESI/Ummam, 
“Tampak para wanita sedang mengerjakan pekerjaan konstruksi boulevard UII”



9/9/14

Inovasi Konsep Pekan Taaruf (PETA) FTI 2014

“Karena acara ini adalah pekan ta’aruf, maka kita akan mengenalkan semua aspek yang ada di dalamnya. Termasuk juga dengan Himpunan jurusan yang selama ini dalam pekan ta’aruf tahun-tahun sebelumnya tidak pernah ada,”


RANGKAIAN kegiatan perkenalan mahasiswa baru di Universitas Islam Indonesia (UII) terus berlanjut, terutama di fakultas teknolgi industri. Senin (8/9) pukul 07.00 WIB tampak wajah-wajah semangat dari mahasiswa baru pada pembukaan PETA (Pekan Taaruf) 2014. Terlihat juga para panitia pelaksanaan sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.
            Tidak terlihat perbedaan yang dominan dari kegiatan rutin yang ada setiap tahun ini, semuanya tampak biasa. Pemeriksaan atribut oleh Departemen Penertib Lapangan (DPL), pembukaan, perkenalan UKM, dan lain sebagainya. Kegiatan yang paling berbeda dari PETA tahun ini adalah adanya perkenalan himpunan jurusan yang dari tahun-tahun sebelumnya tidak pernah ada. Berbagai macam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM),  lembaga khusus fakultas, dan himpunan mahasiswa akan diperkenalkan dalam kegiatan ini.
             “Karena acara ini adalah pekan ta’aruf, maka kita akan mengenalkan semua aspek yang ada di dalamnya. Termasuk juga dengan Himpunan jurusan yang selama ini dalam pekan ta’aruf tahun-tahun sebelumnya tidak pernah ada,” papar Adhi selaku ketua Steering Comitte (SC). Perkenalan tentang dunia perkuliahan juga tentang FTI UII adalah hal yang ditekankan dalam konsep kegiatan PETA. Diadakannya expo dalam kegiatan tersebut adalah cara yang dipilih oleh panitia untuk mensosialisasikan lembaga dan segala unit kegiatan yang ada dilingkungan FTI UII.
            Evaluasi dari kegiatan PETA tahun sebelumnya menjadi patokan bagi SC dalam pembuatan konsep kegiatan PETA tahun 2014. Penghapusan kegiatan simulasi aksi adalah salah satu contoh dari kebijakan baru ini, karena dirasa kurang efektif dalam pelaksanaannya. Inti dari kebijakan baru ini adalah mengambil apa yang sekiranya baik, dan menghapuskan kegiatan yang dirasa sedikit manfaatnya.
            “Dengan bergantinya status siswa menjadi mahasiswa, diharapkan mahasiswa baru mulai beradaptasi pula dengan lingkungan yang baru, tidak terus bergantung pada guru seperti di SMA”, tutur rahma selaku anggota SC kepada Profesi. Konsep yang disusun sedemikian rupa oleh jajaran SC bertujuan agar mahasiswa baru saling mengenal, karena di dunia perkuliahan mereka pasti akan saling membutuhkan dengan teman dari jurusan lain, tambahnya. (Qisti, Romly)

7/25/14

Edukasi di Kolong Tangga

“Walaupun hari ini (31/5) sepi, tapi setiap hari pasti ada pengunjungnya,” ujar Tia saat ditemui di bagian informasi.


Museum Anak Kolong Tangga. Museum ini adalah bagian dari gedung Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan berada dibawah tangga gedung konser TBY, yang terletak di Jalan Sriwedari No.1, Yogyakarta. Museum ini berdiri pada 2008 dan merupakan museum anak dan mainan pertama di Indonesia.

Dilansir dalam blog “Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga”, berdiri-nya museum ini berawal dari inisiatif seorang seniman asal Belgia, Rudi Corens. Rudi Corens adalah seorang kolektor mainan dari berbagai negara. Pada awalnya, mainan dalam museum ini berasal dari koleksi pribadi Rudi Corens, jumlahnya berkisar 3.000 buah. Saat ini, dengan tarif Rp 4.000/orang, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi mainan dalam museum ini yang sudah mencapai 10.000 buah.

Koleksi dari museum tidak hanya mainan, melainkan segala benda yang berkaitan dengan dunia anak. Sebagian besar dari Indonesia, namun koleksi mancanegara yang berasal dari donatur dan hadiah dari kedutaan besar pun tidak kalah banyak.

Pengunjung museum berasal dari berbagai daerah, luar maupun dalam Jogja. Pengunjung museum ini masih didominasi oleh orang dewasa dibandingkan anakanak. Biasanya, pengunjung anak-anak museum ini berasal dari Sekolah Dasar yang dibagi perkelompok. Dimana satu kelompok terdiri dari 15 - 20 orang. Untuk
pengunjung anak-anak dengan usia dibawah 14 tahun tidak dikenakan biaya. Kecuali untuk kunjungan, akan dikenakan biaya untuk guiding dari relawan Museum Anak Kolong Tangga.

Setiap satu tahun sekali, museum ini melakukan pembenahan dengan mengganti koleksi dan tema dari presentasi Museum Anak Kolong Tangga. Hal ini dilakukan untuk terus memberi wawasan baru bagi pelajar dan seluruh pengunjung museum tentang dunia dan mainan anak di seluruh dunia, dengan harapan jumlah pengunjung bisa terus bertambah setiap tahunnya. (Reiny Handayani Paulus)

Penjaja soal UPCM Hiasi UII

“...Kita tujuannya disini hanya jualan buku, kemudian dapat uang buat makan
sama anak istri gitu aja...” ungkap Dodi seorang penjaja soal UPCM UII."



Kala sinar mentari hendak menyapa bumi pertiwi, Dodi pria paruh baya berbadan gempal dan tinggi tak lebih dengan tinggi sekitar 170-an sentimeter telah terbangun dari mimpi. Seolah tak ingin rezeki yang telah dipersiapkan Sang Khaliq untuknya dipatok ayam. Ia telah bersiap dengan buku-buku berisi prediksi soal-soal Ujian Potensi Calon Mahasiswa (UPCM) yaitu Computer Based Tes (CBT) dan Paper Based Test (PBT) yang disusunnya, hendak ia jajakan di kampus, Universitas Islam Indonesia (UII).

Bersama sandal jepit yang menemaninya. Tepat pukul tujuh pria paruh baya ini juga berlomba dengan mahasiswa UII lain untuk sampai di kampus berikon Masjid Ulil Albab.


Soal-soal yang telah ia susun berasal dari berbagai sumber. Salah satu yang sering digunakan adalah sumber dari penuturan peserta ujian yang gagal. Dodi sedikit demi sedikit mengorek informasi jenis dan bentuk soal, sehingga ia dapat menentukan tingkat kesulitan soal yang ia buat. Soal-soal ujian seleksi di UII tidak dibawa pulang oleh peserta, baik itu seleksi melalui CBT maupun PBT, hal inilah yang membuat Dodi, sang pengepul soal kesulitan.

Ditemani istri tercinta, Dodi menjajakan soal-soal tersebut di kampus rahmatan lil'alamin. Tugas dan spot masing-masing telah jeas. Dodi mengambil tempat di boukevard sebelah utara, sedangkan sang istri berada di selatan Masjid Ulil Albab.

Harga soal yang ditawarkan beragam, mulai dari kisaran 35 ribu sampai 75 ribu
rupiah yang didalamnya sudah termasuk kunci jawaban masing-masing soal. Tidak ada penyamaan harga soal UPCM, jadi berbeda penjual berbeda juga harga yang ditawarkan. Para penjual soal-soal UPCM yang berada di pelataran UII ternyata masih dalam ikatan keluarga dengan mereka berdua. Contohnya saja, penjual yang bertempat di depan Koperasi Mahasiswa (KOPMA) UII merupakan kakak dari Dodi. Targetnya, tentu para calon mahasiswa baru yang hendak mendaftar kuliah. Umumnya, para calon mahasiswa ini belum memiliki banyak gambaran mengenai soal ujian, sehingga melalui buku prediksi soal-soal UPCM yang disusunnya, ia berharap dapat membantu para calon mahasiswa untuk dapat menjawab soal.

Respon positif diterima Dodi dari peserta ujian yang lolos seleksi dan diterima kuliah, dengan ikhtiar dari peserta yang membeli soal UPCM miliknya. Menurut penuturan Dodi, hal itu terjadi karena soal yang ia buat hampir sama dengan soal yang diujikan di UII. Ia bersyukur atas hal itu.

Untuk hal negatifnya sendiri, soal-soal buatan Dodi tidak memiliki legalitas, karena soal dibuat berdasar dari inisiatif dan pengalaman yang ia dapat sendiri, bukan dari petunjuk dan arahan pihak manapun. Ia hanya mencoba menerkanerka bentuk soal yang telah digambarkan para pembelinya.

 Ia mengaku, ada oknum-oknum tertentu sesama penjual soal UPCM yang melanggar peraturan kampus, tidak boleh berjualan disekitaran Gedung Rektorat, hal tersebut membuat ia dan keluarganya dikejar-kejar petugas keamanan kampus.

 Bayangan benda yang lebih tinggi dari benda aslinya menjadi pertanda bel pulang bagi dirinya dan keluarga, sekitar pukul 15.30 ia sudah harus bersiap-siap untuk membereskan barang dagangannya, konsumen pasarnya telah beranjak dari UII satu per satu.

 Dodi beserta istri ke UII dengan tujuan hanya menjual buku, kemudian dapat uang untuk makan anak dan istri. Ia hanyalah pedagang musiman yang juga seorang pengangguran, mencoba mengais mencari rezeki dari segala ini asalkan halal, sehingga apa yang dimakan anak dan istrinya menjadi berkah.

 Seolah berkaca dari kisah romantis mantan Presiden Republik Indonesia ketiga, B.J. Habibie-Ainun, ia selalu setia ditemani sang istri menjajakan soal-soal UPCM susunannya di kampus perjuangan. Entah sampai kapan, mungkin sampai harapan baru muncul dan terwujud dengan ikhtiar kerasnya yang tiada berujung. (Tri Wahyudi)