SEPUTAR PROFESI

"LPM PROFESI FTI UII Adakan Workshop Jurnalistik Sabtu (01/11)"

Untaian "Kata" PROFESI

Lembar berisikan berita milik PROFESI

SEPUTAR PROFESI

Pengrajin Gerabak sedang membakar karyanya agar kokoh.

Diskusi Bersama

Para Caleg (Calon Legislatif) KM FTI dalam acara Diskusi Bersama oleh LPM PROFESI

Pekan Taaruf FTI UII 2014

Suasana Pekan Taaruf (Pekta) 2014 di lingkungan FTI UII.

1/8/15

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Adakan Acara 9 SKS


“Mahasiswa ilmu komunikasi mengadakan pameran karya-karya kreatif mahasiswa”



Mahasiswa ilmu komunikasi mengadakan pameran hasil karya-karya mahasiswa ilmu komunikasi di Auditorium Kahar Muzakir kampus terpadu UII. Nama dari acara ini adalah 9 sks dan bertujuan untuk mengapresiasi karya-karya kreatif mahasiswa ilmu komunikasi. Acara yang berlangsung selama dua hari (6-7 Januari 2015) mengusung tema “Pameran Karya Mahasiswa Kreatif Komunikasi.”
Nama “9sks” lahir karena adanya tugas dari tiga mata kuliah yang masing-masing berjumlah 3sks dan diampu oleh dosen yang sama serta usulan dari prodi untuk memamerkan tugas-tugas tersebut. Berbagai rangkaian acara menjadi andalan pameran ini. Diantaranya, diskusi foto dokumenter, diskusi film dokumenter, dan karya media kreatif. “Sebenarnya yang kami utamakan pamerannya,” beber Reza selaku ketua panitia.
Acara yang dibuka oleh Arief Fahmi, Dekan Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya (FPSB) ini tidak berjalan dengan baik dikarenakan pada hari kedua acara (7/1) listrik dipadamkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk melakukan maintenance/pemeliharaan disekitaran UII sehingga pemutaran film dokumenter dibatalkan. “Tadi pagi sebenarnya sudah ada pemutaran film, tapi sebagiannya lagi terkendala oleh PLN yang melakukan pemeliharaan, sangat disayangkan karya teman-teman ada yang tidak dipamerkan,” lanjut Reza.
Pendanaan acara ini, Reza menuturkan disamping dana dari pihak sponsor, setiap panitia juga menyumbangkan sebagian uang mereka sebesar 100.000 rupiah. Sehingga acara ini free entry untuk umum alias gratis.

Tolak ukur kesuksesan acara ini tidak terlalu dipikirkan oleh Reza sebagai ketua panitia. “Karena ini baru pertama kali, jadi acara ini sudah jalan saja sudah cukup sukses bagi saya,” tutup Reza. (Oleh: Tantowi Alwi. Reportase bersama: Tri Retno)

1/6/15

Diskusi Terbuka Bersama Dekan FTI UII


Selasa (6/1), perwakilan lembaga kemahasiswaan FTI melakukan diskusi bersama Dekan FTI terkait masalah akademik dan fasilitas”


     Selasa (6/1), Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (DPM FTI) menyelenggarakan diskusi terbuka bersama perwakilan lembaga kemahasiswaan FTI dan Dekan FTI di ruang sidang 1 Dekanat. Agenda yang dilaksanakan pukul 14.00 WIB ini dilatarbelakangi oleh banyaknya mahasiswa FTI yang menyampaikan aspirasi ke DPM FTI terkait kinerja dosen, fasilitas yang menunjang kegiatan mahasiswa dan kualitas pelayanan dari divisi yang ada di FTI.
            Imam Djati Widodo selaku Dekan FTI menyambut baik kegiatan yang diadakan oleh Komisi II DPM FTI. “Entah itu tiga bulan sekali atau setengah tahun sekali bisa kita duduk bersama seperti ini, supaya kita tahu kegiatan-kegiatan atau keluhan-keluhan dari mahasiswa,” tutur Imam. Komisi II DPM FTI menyampaikan pula bahwa agenda ini terlaksana atas kerja sama Komisi II DPM FTI dan pihak Dekanat. “Semoga ada solusi dari keluhan teman-teman Himpunan Mahasiswa terkait masalah akademik dan fasilitas kampus,” ungkap Ita, Komisi II DPM FTI.
            Setiap pihak yang bersangkutan dalam diskusi terbuka ini pun memanfaatkan kesempatan ini dengan aktif, sehingga berbagai pertanyaan dan keluhan melalui perwakilan lembaga kemahasiswaan FTI dapat tersampaikan dengan baik kepada Dekan FTI. Ada tiga pembahasan utama yang dipersoalkan yaitu kinerja dosen, fasilitas yang menunjang kegiatan mahasiswa dan kualitas pelayanan dari divisi yang ada di FTI.

Kinerja dosen
Beberapa mahasiswa FTI cukup prihatin dengan adanya dosen yang acap kali tidak hadir, mengatur jadwal kuliah pengganti dan meliburkannya tanpa sepengetahuan sebagian mahasiswa. Mahasiswa Teknik Kimia menyayangkan adanya pengaturan jadwal kuliah pengganti lalu membatalkan secara sepihak, penyampaian informasi juga terlalu mepet serta hanya melalui sosial media sehingga ada sebagian mahasiswa tidak mengetahui informasi tersebut. Perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin (HMTM) juga mempertanyakan persoalan dosen yang memajukan jadwal Ujian Akhir Semester (UAS) di salah satu mata kuliah. Ragam keluhan tersebut ditampung dan beberapa langsung ditanggapi oleh Dekan FTI, terkait keluhan dari mahasiswa teknik kimia, Dekan FTI membeberkan kalau teknik kimia memang kekurangan dosen pengampu mata kuliah sehingga mempengaruhi kegiatan belajar dan mengajar. Perihal dosen dari teknik mesin yang memajukan jadwal UAS beliau beranggapan kemungkinan dosen tersebut pikirannya sudah terbagi-bagi karena harus mempersiapkan diri untuk melanjutkan kuliah S3 ke Belanda, sehingga opsi yang dipilih dari dosen tersebut dengan memajukan jadwal UASnya. Untuk kinerja dosen yang buruk, pihak dekanat mengadakan kuisioner ke mahasiswa untuk menjadi bahan evaluasi Kepala Jurusan. Pihak dekanat juga hanya melakukan teguran ke setiap dosen yang kinerja buruk, namun sanksi yang notabene adalah tindakan tegas, jarang sekali diterapkan.   

Fasilitas yang menunjang kegiatan mahasiswa
Perwakilan lembaga kemahasiswaan FTI juga mempertanyakan keadaan seluruh fasilitas di lingkungan FTI. Baik itu keadaan fasilitas yang ada di kantor kelembagaan, di laboratorium, dan di ruang kelas. Dekan FTI langsung merespon dengan cukup baik berkaitan dengan seluruh fasilitas di FTI, hanya saja di tahun 2014 terkendala dengan dana yang ada. “Silahkan saja disiapkan proposal pengajuan dananya, karena dekanat juga akan membuat rancangan anggaran yang baru,” ujar Imam.

Kualitas pelayanan dari divisi yang ada di FTI
DPM FTI juga menampung kekecewaan mahasiswa FTI terkait pelayanan terhadap mahasiswa dari beberapa divisi. Salah satunya yaitu aduan dari mahasiswa teknik kimia kepada DPM FTI bahwa ada pegawai yang pernah berbicara kasar ketika melayani mahasiswa. Menanggapi hal tersebut, Dekan FTI pun memberi teguran kepada pegawai-pegawai yang dinilai kurang ramah. (Oleh Tantowi Alwi)

1/5/15

Sistem “Jemput Bola” diterapkan UII Press

Baru kali ini kita harus mendirikan stan untuk mendistribusikan Al Qur’an, tahun-tahun sebelumnya stok selalu terpenuhi diregistrasi awal”

Senin (5/1), ada yang berbeda ketika masuk ke  gedung Fakultas Teknologi Industri (FTI)  melalui pintu timur, terdapat stan yang bertuliskan “Tempat pengambilan Al Qur’an Mahasiswa UII  Tahun 2014”. Stan yang didirikan oleh UII Press  ini tujuannya untuk mendistribusikan Al Qur’an untuk mahasiswa UII tahun 2014 yang seharusnya dibagikan ketika registrasi mahasiswa baru.
Keterlambatan pendistribusian Al Qur’an dikarenakan salah cetak dari pihak percetakan.  “Setelah kita sortir ternyata ada kesalahan dari percetakan, ada yang kebolak-balik, ada  yang  tanpa  tulisan,” ungkap Awan, karyawan UII Press  bagian marketing. Al Qur’an yang seharusnya  dibagikan ketika registrasi cukup membuat repot UII Press  karena harus menerapkan sistem “jemput bola” dengan mendirikan stan ke fakultas-fakultas . Untuk keefektifan distribusi, UII Press juga meminta bantuan divisi Akademik untuk menginformasikan ke mahasiswa FTI. “baru kali ini kita harus mendirikan stan untuk mendistribusikan Al Qur’an, tahun-tahun sebelumnya stok selalu terpenuhi diregistrasi awal,” Ujar Awan.
Jumlah Al Qur’an typo/kesalahan cetak juga tidak sedikit, ± 1500 eksemplar  yang harus dikembalikan dan diperbaiki ke percetakan. Jumlah ini sangat besar dari tahun kemarin yang hanya beberapa mengalami kesalahan cetak. Hal itulah yang membuat pendistribusian terlambat.

Awan juga berharap agar mahasiswa UII tahun 2014 dapat segera mengambil Al Qur’annya, bisa ke stan yang ada di FTI atau langsung ke kantor UII Press di jalan Cik Di Tiro. Stan di FTI akan berlangsung sampai Jumat (9/1) dari pukul 09.00-15.00 setiap harinya.  (Oleh: Tantowi Alwi)

12/1/14

RESENSI : Sang Pemula


Judul                : SANG PEMULA
Penulis             : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit           : Sang Pemula
Tebal               : 422 hlm
Harga              : Rp 30.000
ISBN               : 979-973-120-8


SEPOTONG CERITA PERJUANGAN BAPAK PERS NASIONAL
“Djaman sekarang, banjak sekali journalist jang gagah brani, tetapi moedah didjebak, sedang journalist jang tjerdik kebranian koerang”
Raden Mas (RM) Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora, Jawa Tengah pada 1880. Djokomono adalah nama pada masa kecilnya. Putra bangsawan Jawa ini mengenyam pendidikan di HBS Belanda kemudian melanjutkan studi eleve (bahasa Prancis, artinya seperti sekolah kejuruan) kedokteran di STOVIA, Batavia.
Tirto Adhi Soerjo menjadi jurnalis yang berbeda sekembalinya dari pengembaraan di Maluku. Tidak seperti ketika memimpin surat kabar Soenda Berita dengan sopan dan sabar, ia berubah menjadi begitu sengit. Seperti dikatakan Pramoedya Ananta Toer dalam buku Sang Pemula, dalam setiap kesempatan, Tirto sering menggunakan tulisan-tulisannya untuk berani mengkritik dan menyatakan ketidakadilan serta kebusukan pemerintahan Belanda. Selama di Maluku Tirto menyaksikan kebiadaban dan perlakuan tidak adil kepada pribumi yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda.
Berbekal pengalaman di Maluku membuat dirinya berani mempublikasikan Medan Prijaji. Koran ini dikenal  sebagai surat kabar nasional pertama, karena menggunakan bahasa Melayu (Indonesia) dan seluruh pekerja mulai dari wartawan, penerbitan, dan pekerjanya adalah pribumi Indonesia asli. Dengan delapan pedoman bahwa surat kabar (berita) harus memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, menjadi tempat pengaduan orang tersia-sia, membantu orang mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi atau mengorganisasi diri, membangun dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha dan perdagangan, Medan Prijaji menunjukkan secara gamblang ke mana keberpihakan pers serta jurnalis harus diarahkan.

Akar Jurnalisme politik mengurat sampai pasca kemerdekaan. Di era demokrasi liberal tahun 1950-an, pers adalah napas yang sama dengan era sebelumnya, yaitu menjadi pers propaganda. Kita bisa menyebut beberapa contoh : Abadi (berafiliasi dengan Masyumi), Pedoman (PSI), Harian Rakyat (PKI), Suluh Indonesia (PNI), dan Indonesia Raya (Independen, anti komunis). Pasar surat kabar saat itu dikuasai media yang berafiliasi dengan partai politik.
Tirto Adhi Soerjo juga menjadi motor gerakan emansipasi wanita bersama R.A Kartini yang ternyata masih serumpun jika dilihat dari garis keturunan para raja Madura. Beberapa persamaan antara Tirto dan R.A Kartini adalah sebagai berikut, kepriyayian saat R.A Kartini dan Tirto menolak menjadi priyayi, Kedokteran saat R.A Kartini memandang kedokteran sebagai lapangan pekerjaan yang yang bagus untuk bangsanya, sedangkan Tirto telah mengikuti sekolah kedokteran, walaupun tidak sampai selesai. Sekolah gadis untuk pribumi saat R.A Kartini bercita-cita mendirikan sebuah sekolah, sedangkan Tirto menulis terkait pengajaran untuk perempuan Bumiputera, dan Perhimpunan Oost en West saat R.A Kartini membantu memajukan kerajinan pribumi, sedangkan Tirto telah menjadi anggota perhimpunan tersebut cabang Jawa Barat.

Lain R.A Kartini, lain pula cerita Tirto dengan Dewi Sartika. Namun, tidak banyak keterlibatan Tirto dalam perjuangannya menggerakkan emansipasi wanita kala itu. Di mulai sejak Tirto menjadi donatur dan penasihat di usaha dan sekolah tenun Dewi Sartika.

Suwarti, Wanita Konstruksi

Sebelum mentari pagi menyapa, aku harus sudah bangkit dari kepulasanku hingga larut nanti. Bismillah, aku niatkan ini demi buah hatiku. Begitulah kiranya motivasi hidup Suwarti, salah seorang wanita pekerja konstruksi boulevard UII.


Empat bulan terhitung awal penggarapan, Suwarti (47) tinggal di gubuk konstruksi proyek boulevard UII. Ini bukanlah kali pertama ia terjun ke dunia konstruksi, melainkan sejak usia 15 tahun. Suwarti merelakan masa remajanya terenggut oleh kemuliaan menafkahi kedua orang tuanya. Kini, setelah mereka tiada, derita itu tetap saja melekat dikesehariannya. Suwarti masih harus kesana-kemari menjadi buruh proyek untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama gadis bungsunya yang berusia 18 tahun. Sementara, sang suami pergi meninggalkannya tiga tahun silam dengan hutang-hutang yang masih menumpuk, kini rumah Suwarti akan disita jika tak sanggup melunasi semua hutangnya.
Pukul 08.00, semua pekerja harus sudah berada di lokasi proyek, begitu juga Suwarti harus sudah menyiapkan segala keperluan konsumsi untuk makan siang bagi mereka. Tugas Suwarti sebenarnya hanya melayani konsumsi, namun tak jarang ia terjun ke lokasi untuk menggali lubang, memecah batu, dan mengangkut paving block hingga waktu Zuhur tiba. Meski tiada upah tambahan, Suwarti mengikhlaskan apa yang telah ia kerjakan.
Waktu menunjukkan pukul 13.00, Suwarti siap kembali ke lokasi untuk melanjutkan pekerjaannya. Lelah, penat, dan rasa ingin berontak, itulah gambaran dari perasaan Suwarti. “Kalau gak kerja, mau makan apa?” ungkap wanita berdarah jawa itu. Dengan kondisi kaki yang belum sempurna sembuh akibat tertabrak mobil, peristiwa dua tahun silam. Semua ini dilakukan dengan alasan buah hatinya dan menghilangkan stress karena lilitan hutang sang suami.
“Itu, menyetel radio, nyanyi-nyanyi, stress hilang,” ungkap Suwarti dengan senyum bahagia menunjuk radio di pojok.
Tidak ada yang menginginkan diri menjadi buruh proyek, namun karena tuntutan hidup, mereka memaksakan diri untuk terjun ke dunia konstruksi. “Itulah namanya hidup, Mas,” tegas Evi Tri Sasono, Manajer Lapangan proyek pembangunan boulevard UII kepada LPM Profesi. “Mereka tidak seberuntung kita. Tinggal kuliah, tinggal makan, masih malas, “tambahnya.
Dalam dunia konstruksi, tiada beda porsi baik itu wanita maupun lelaki. Wanita juga tetap melakukan kerja berat, karena semua dianggap sama ketika berada di dunia kerja. Yang jelas, pekerjaan ini selesai pada waktu yang telah di jadwalkan.
Suwarti kerap kali mengalami kelelahan, pernah suatu saat ia terpleset di kamar mandi gubuk konstruksinya. Ketika itu tiada orang satupun di sana, karena pada malam hari hanyalah Suwarti seorang diri yang tinggal di gubuk itu.”Kecapekan, keseleo, manggil-manggil gak ada orang, ngesot-ngesot, basah,” tutur Suwarti dengan nada polos.
Bagaimana tidak, dari pukul 13.00 tak hanya selesai pada pukul 16.00. Usai Sholat Isya, Suwarti melanjutkan pekerjaan memindahkan paving block ke lokasi yang hendak digunakan esok hingga malam hari. Ia melakukan itu dengan sendiri, terkadang saat ditemani dengan rekan pekerja, mereka melakukan secara bersama “Gak pernah tidur siang, enak kerja keluar keringat,”ungkap wanita itu dengan tulus.
Prihatin dan kasihan, perasaan itu yang dirasakan Toko, rekan kerja yang juga dipercaya sebagai Asisten Mandor. “Kenal sejak kecil, kerja buruh kesana-kemari. Prihatin, sama-sama gak punya” jelas Toko jujur.
Jika ditanyai impian, jawabannya pasti sama dengan para ibu pada umumnya yaitu ingin membahagiakan buah hatinya. “Maunya menyenangkan anak, bayar bank (hutang .red),” harapnya. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya jatuh di lubang yang sama. Mereka ingin anaknya lebih bahagia ketimbang saat ini, saat bersama orang tua. Meski Suwarti single parent, ia tetap mengusahakan agar anaknya bahagia dengan mencarikan pekerjaan yang layak untuk gadis remajanya.
Terik tak mengurungkan niatnya untuk mengubah hidup, berbagai cara ia lakukan dengan melakukan sholat, Puasa Senin, dan Puasa Kamis. “Puasa Senin Kamis biasa, kuat, biasa” tuturnya.
            Berat rasa untuk kembali ke rumah miliknya karena lilitan hutang. “Saya belum berani pulang” ungkapnya. Rumah kesayangannya sudah tiga tahun ditinggalkan tanpa ada perawatan. Ia tidak mengharapkan imbalan lebih, Tak cukup upah kerja borongannya itu jika dipikirkan, ia ikhlas menyerahkan semua yang terjadi hanya kepada Yang Maha Esa. (M. Khoirul Ummam)

Foto: PROFESI/Ummam, 
“Suwarti sedang menyiapkan konsumsi di gubuk konstruksi proyek pembangunan boulevard UII”

Foto: PROFESI/Ummam, 
“Tampak para wanita sedang mengerjakan pekerjaan konstruksi boulevard UII”