SEPUTAR PROFESI

"LPM PROFESI FTI UII Adakan Workshop Jurnalistik Sabtu (01/11)"

Untaian "Kata" PROFESI

Lembar berisikan berita milik PROFESI

SEPUTAR PROFESI

Pengrajin Gerabak sedang membakar karyanya agar kokoh.

Diskusi Bersama

Para Caleg (Calon Legislatif) KM FTI dalam acara Diskusi Bersama oleh LPM PROFESI

Pekan Taaruf FTI UII 2014

Suasana Pekan Taaruf (Pekta) 2014 di lingkungan FTI UII.

8/23/15

Konsumsi Tanpa ‘Koreksi’


 Foto: Ianra/PROFESI "Departemen Konsumsi sedang menjaga makanan untuk mahasiswa baru"

Oleh: Nisa
Reportase bersama Ikhwan, Tantowi, Tari, Vicko dan Ianra

            Setiap universitas memiliki agenda rutin OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) dalam rangka menyambut mahasiswa baru. Universitas Islam Indonesia pun tidak ketinggalan mengadakan kegiatan OSPEK yang biasa disebut PESTA (Pesona Ta’aruf). Seperti tahun sebelumnya, rangkaian PESTA 2015 diawali dengan kegiatan pra PESTA yang berlangsung pada tanggal 22 Agustus 2015. Pada kegiatan tersebut, panitia ospek telah mengumumkan bahwa pra PESTA dimulai pada pukul 08.00-15.00 WIB.
Melihat dari lamanya kegiatan yang berlangsung, tentu peserta membutuhkan tenaga yang cukup untuk mengikuti kegiatan hingga usai. Oleh karena itu, Departemen Konsumsi PESTA 2015 berinisiatif menyediakan konsumsi untuk peserta. Berkaitan dengan hal tersebut, setiap peserta diminta untuk menyerahkan sejumlah uang sebagai bentuk pembayaran konsumsi. Salah satu mahasiswa baru yang berasal dari Jurusan Kedokteran Umum, Ayu mengatakan bahwa mereka diminta untuk membayar dana konsumsi pra PESTA sebesar Rp10.500. Hal senada juga disampaikan oleh Icha, Waljam dari Jamaah tujuh puluh enam. Selain itu, Icha juga mengimbau kepada peserta agar membawa makanan ringan saat pra PESTA.
Konsumsi pra PESTA terdiri dari makan besar dan air minum. Demi memenuhi kebutuhan konsumsi pra PESTA, makan besar disediakan oleh tujuh pengelola warung makan. Kali ini, Kantin Sagar Matha yang berada di Kampus Terpadu UII menjadi salah satu penyedia makan besar tersebut. Afi, pengelola kantin menuturkan bahwa pihaknya hanya diminta panitia untuk menyediakan 645 porsi makan siang. Pada pukul 09.30,  pihak kantin sudah mulai mendistribusikan makanan kepada panitia. Baik makan besar maupun air minum, semua dikumpulkan di halaman depan Rusunawa UII. Dapat dipastikan bahwa pembagian konsumsi akan dilakukan pada saat kegiatan ISHOMA (Istirahat, Sholat dan Makan). Sayangnya, ketika tim PROFESI ingin mengklarifikasi lebih lanjut perihal mekanisme konsumsi, Departemen Konsumsi tidak bersedia memberikan keterangan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, jamaah mulai dibagi konsumsi sekitar pukul 12.00 pada waktu ishoma. Bagi jamaah yang berada di sekitar Auditorium Kahar Muzakir, konsumsi diambil oleh Wali Jamaah di tempat pengumpulan konsumsi. Namun, bagi jamaah yang tidak berada di sekitar auditorium, konsumsi didistribusikan langsung oleh Departemen Konsumsi. Menurut salah satu mahasiswa baru Teknik Sipil, Muhammad Rizqullah menyampaikan bahwa pendistribusian konsumsi saat pra PESTA sudah cukup tertib dan memuaskan. “Mereka membaginya sangat tertib, sangat memuaskan,” tutur Rizqullah. Hal ini sejalan dengan pendapat Dila, mahasiswa baru Teknik Lingkungan. Menurutnya, konsumsi yang didapat peserta sudah sesuai dengan harga yang harus dibayarkan. Mendengar opini peserta pra PESTA kali ini, dapat dikatakan bahwa mereka telah merasa puas dengan konsumsi yang disediakan oleh panitia. 

8/18/15

Memaknai Hari Kemerdekaan RI ke-70




Foto: Arbi/PROFESI “Pengibaran Bendera Merah Putih di halaman Istana Kepresidenan Gedung Agung, Yogyakarta” 


Oleh: Warih Arbi dan Tantowi Alwi
               Senin (17/8/2015), merupakan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI)  yang ke-70. Dalam memperingati hari kemerdekaan RI selalu dilaksanakan kegiatan upacara pengibaran bendera Merah Putih di seluruh Indonesia. Di Yogyakarta upacara tersebut digelar di Istana Kepresidenan Gedung Agung dan dipimpin langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X selaku Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.
                 Upacara yang dimulai pada pukul 09.55 WIB, dikomandani oleh Letnan Kolonel Habdul Manan yang menjabat sebagai Komando Detasemen Pertahanan Udara 474 Paskhas. Turut dihadiri ratusan peserta upacara dari TNI, POLRI, Pemda DIY, DPRD DIY, mahasiswa, serta pelajar. Selain dihadiri oleh peserta upacara, pelaksanaan upacara juga dihadiri oleh puluhan veteran di Yogyakarta.
            Peringatan Hari Kemerdekaan RI yang ke-70 dimaknai beragam oleh beberapa kalangan masyarakat. Salah satunya oleh Septi Cahya Ningrum, Mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang merupakan peserta upacara, menurutnya dalam peringatan ini masyarakat Indonesia harus menjunjung seni dan budaya yang ada di Indonesia. “Lebih menjunjung seni-seni yang sudah tertinggal, jangan malah mengikuti budaya asing,” ujar Mahasiswi Jurusan Seni Rupa Kerajinan. Berbeda dengan Septi, Agung seorang warga Rotowijayan memaknai peringatan ini dengan mengharapkan rasa persatuan dan kesatuan tidak akan pernah luntur. “Dari suku manapun harus baik-baik, jangan sampai luntur rasa persatuannya, kalau tidak bersatu kan repot nantinya,” tutur Agung. Tak ketinggalan, Dewan Pimpinan Daerah Legiun Veteran Republik Indonesia (DPD LVRI) DIY juga ikut memaknai Kemerdekaan RI yang ke-70 ini dengan semangat persatuan. Menurutnya semangat persatuan dan kesatuan dahulu dan sekarang itu jauh berbeda, “Pada zaman perjuangan kita rasakan bagaimana rasa persatuan dan kesatuan luar biasa eratnya, kalau sekarang ini kan kayaknya siapa lu siapa gua,” ungkap Djamaludin Beddu, Wakil Ketua II DPD LVRI DIY. Djamaludin juga menyampaikan pesan, generasi muda harus menanamkan jiwa kejuangan dalam diri masing-masing dan untuk pemerintah agar menghayati kembali Undang-undang Dasar 1945.         

8/16/15

Bakti Sosial dari alumni FTI UII




    Foto: Tantowi/PROFESI “Suasana Temu Alumni di dalam Auditorium FTI”

Oleh: Putri Pamuji 
        Sabtu (15/8/2015), Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) mengadakan acara Temu Alumni FTI UII. Acara tersebut merupakan inisiatif dari fakultas dalam rangka acara 5000 Alumni Pulang Kampus. Temu Alumni yang berlangsung pukul 14.00 WIB dilaksanakan di Auditorium FTI UII.
                 Selain bertemu antar alumni FTI, tujuan dari acara tersebut dimanfaatkan untuk membahas kegiatan sosial yang diangkat oleh panitia acara dan para alumni. “Banyak alumni yang meminta jangan hanya kumpul, makan terus pulang saja tapi melakukan kegiatan sosial,” Ujar Imam Djati Widodo selaku Dekan FTI. Ketua Panitia Temu Alumni FTI, Prof. Hari Purnomo, menyampaikan dua gagasan untuk dibahas. Pertama, alumni diminta memberi sumbangan seribu pohon produktif ke desa yang pernah terkena musibah. Kedua, para alumni diminta berkontribusi dalam hal pemberian beasiswa untuk mahasiswa yang kurang mampu. “Harapan kita ada kontribusi dari alumni perihal gagasan ini,”  ungkap Imam..
              Dalam acara ini, panitia Temu Alumni FTI menghargai satu pohonnya senilai Rp25.000. Ada yang menarik selama acara berlangsung, salah satu alumni menghampiri langsung rekan-rekannya sambil membawa pot tanaman untuk memberi sumbangan. Dana yang terkumpul dari para alumni totalnya Rp6.800.000 atau sama jumlahnya dengan 272 pohon. Selanjutnya, pohon yang terbeli hasil sumbangan para alumni akan ditanam di sekitar lereng merapi. Pada acara ini juga, para alumni Teknik Industri memberikan beasiswa untuk dua mahasiswa Teknik Industri yang kurang mampu untuk membiayai seluruh biaya kuliah sampai lulus. Kisarannya sebesar 60 juta per mahasiswa.
         Agenda selanjutnya, para alumni dipisah sesuai jurusan mereka masing-masing untuk melakukan diskusi khusus bersama jajaran program studi. “Karena mungkin setiap prodi punya keinginan sendiri-sendiri,” tutur Imam.
                 Terkait dengan acara ini, beberapa alumni memberikan tanggapan yang berbeda. “Menurut saya harus ada feedback, agar teman-teman junior menjadikan ini sebagai momentum pertemuan dan perkenalan dengan alumni”, ujar Sutedjo yang berasal dari Sumsel. Berbeda dengan Sutedjo, Herman alumni Teknik Industri beranggapan acara ini sebagai motivasi bahwa junior dapat menjadi seperti para alumni serta menjadi peluang besar bagi mahasiswa yang akan lulus untuk mencari informasi di dunia kerja.
            Senada dengan Sutedjo, harapan dari acara ini para alumni UII dapat berperan dalam dinamika kebangsaan. “Tugas Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UII dapat merangkul seluruh alumni untuk membangun Indonesia,” pungkas Sutedjo.
(Reportase Bersama Ianra dan Tantowi)

8/14/15

Kemana Panitia?


Opini – Fajar Asri (Staff Riset dan Pustaka LPM Profesi)

Melihat dari susunan acara yang terdapat pada  kuliah perdana, dapat dikatakan pihak rektorat ingin memperkenalkan suasana belajar di dunia universitas. Hal ini ditunjukan  dengan diadakannya kuliah umum. Pada kesempatan kali ini pembicara menitikberatkan pada kemampuan mahasiswa di luar bidang akademik. Hal yang lain yaitu memperkenalkan jabatan struktural universitas mulai dari rektor hingga jabatan ketua jurusan di setiap fakultas. Pada acara ini juga, para mahasiswa berprestasi diberikan penghargaan oleh universitas agar dapat memotivasi mahasiswa baru. Memang,  banyak sekali mahasiswa yang terlihat antusias mengikuti rangkaian demi rangkaian acara yang telah disusun oleh panitia. Sayangnya, kondisi itu hanya terlihat oleh mahasiswa yang berada di dalam auditorium.

            Sangat berbeda  dengan mahasiswa yang berada di luar gedung. Berbagai macam kondisi yang ‘memprihatinkan’  bagi mahasiswa baru. Entah apa yang mereka pikirkan sehingga terlihat seolah-olah acuh tak acuh dengan aparatur kampus yang berada di sekitarnya. Terlihat sejumlah mahasiswa baru yang menggunakan almamater sedang membakar dan menghisap rokok dengan gaya khas para perokok. Memang tak ada larangan merokok bagi setiap mahasiswa. Namun, bagi seorang mahasiswa baru rasanya kampus merupakan tempat melampiaskan kebebasan yang selama di bangku sekolah terkekang.  Anehnya, tak ada satupun pihak kampus yang menegur mahasiswa yang merokok. Hal ini terkesan seolah-olah membiarkan citra Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai kampus yang berlandaskan Islam tercoreng.

            Hal lain yang tak kalah mirisnya, di saat acara berlangsung banyak sekali mahasiswa baru yang “keluyuran” ke area kampus. Pakaian hitam putih beserta almamater terlihat menyusuri bagian demi bagian kampus yang seolah tidak peduli dengan acara kuliah perdana. Anehnya lagi, tak ada satupun pihak rektorat selaku panitia penyelenggara yang menanyakan kepada mereka terkait alasan meninggalkan acara. Sekali lagi, ini  mengajarkan kepada mahasiswa baru untuk acuh tak acuh terhadap esensi acara yang ingin dicapai. 

            Memang ada mahasiswa yang berada di luar auditorium yang mengikuti  rangkaian acara hingga akhir. Namun, dari sisi kenyamanannya sangat memprihatinkan. Terutama, di sisi barat gedung. Mereka terlihat terdiam tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam auditorium. Fasilitas seperti monitor, tidak tersedia di sana. Pengeras suarapun tidak tersedia. Di tambah lagi, panggung yang sedang digarap untuk persiapan IKA (Ikatan Keluarga Alumni), membuat konsentrasi mahasiswa baru makin tidak karuan. Hal lain yang terlihat, ketika suara bising itu masuk ke dalam auditorium, pihak panitia pun menutup pintu auditorium tersebut dan seolah-olah menganggap tidak ada mahasiswa baru di luar. Seharusnya kesan pertama dibuat senyaman mungkin bagi seluruh mahasiswa, sehingga tidak ada satupun yang merasa tidak mendapatkan fasilitas.

            Terlepas dari itu semua, masalah kembali lagi ke pihak panitia. Jika mereka mendapatkan kenyamanan, tidak mungkin ada mahasiswa yang merokok dan berkeluyuran. Memang,  kapasitas auditorium tidak begitu besar untuk  menampung sejumlah mahasiswa baru yang membludak. Namun, bukan berarti terkesan pasrah dengan kondisi yang ada. Semoga dengan tulisan ini kita sebagai keluarga besar UII dapat bersama-sama membenahi segala kekurangan.

Nyamankah Kuliah Perdana?

Oleh : Reza

“Untuk ke depannya, hal-hal semacam ini jangan terulang lagi. Sehingga, bisa lebih baik dari sebelumnya,”


“Mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia mengikuti kuliah perdana di Auditorium kahar Mudzakir”
                                                                                               
Pelaksanaan kuliah perdana Universitas Islam Indonesia sudah menjadi agenda rutin setiap tahun. Tahun ini, peserta kuliah perdana berasal dari mahasiswa dan mahasiswi baru tahun akademik  2015/2016. Kuliah perdana dilaksanakan pada Jumat (14/8/2015) di Auditorium Kahar Mudzakir dimulai pukul 07.00 WIB.
Dalam kuliah perdana, peserta mendapat kuliah umum dari beberapa narasumber, salah satunya Yudha Antariksa. Pihak universitas juga memperkenalkan jajaran pimpinan, staf struktural, dan staf pengajar UII.
Sayangnya, kuliah perdana kali ini diwarnai berbagai kendala, seperti kurangnya sarana dan prasarana pendukung. Kursi, tenda, monitor, dan sound system yang disediakan belum mampu memberikan kenyamanan. Auditorium Kahar Mudzakir tidak dapat menampung peserta yang mencapai  5386 orang. Sehingga, banyak peserta yang tidak mendapat tempat duduk di bawah tenda yang disediakan di luar auditorium.
Berdasarkan pantauan di lapangan, banyak peserta yang tidak mendapatkan kursi dan tidak terlindung tenda. Hal ini menyebabkan banyaknya peserta yang justru asyik mengobrol dan berkumpul di kantin Fakultas Psikologi dan Seni Budaya. Ada pula peserta yang merokok dan sebagian juga tampak meninggalkan lokasi kuper untuk pulang.
Rahmat, salah seorang  peserta yang berasal dari jurusan akuntansi mengatakan bahwa ia merasa tidak betah karena suasana yang panas dan tidak nyaman. Di sisi lain, seorang peserta dari jurusan manajemen mengaku tidak mendapat kenyamanan selama kuliah perdana karena tempat duduknya tidak tertutup tenda.
Sarana sound system yang dipasang di beberapa titik juga mengalami masalah. Suara yang keluar dari speaker tidak begitu jelas, sehingga peserta kesulitan mendengar informasi yang disampaikan. Padahal, mereka perlu mencatat berbagai informasi selama kuliah perdana berlangsung. Monitor yang seharusnya dapat menggambarkan suasana di dalam Auditorium Kahar Mudzakir juga tidak berfungsi dengan baik. Sehingga, peserta tidak dapat mengetahui suasana kuliah perdana di dalam auditorium.

Ketidaknyamanan kuliah perdana ini dikeluhkan oleh salah satu orang tua peserta yang juga ikut menyaksikan jalannya kuliah perdana. “Untuk ke depannya, hal-hal semacam ini jangan terulang lagi. Sehingga, bisa lebih baik dari sebelumnya,” tutur salah satu orang tua peserta yang tidak ingin disebutkan namanya.