SEPUTAR PROFESI

"LPM PROFESI FTI UII Adakan Workshop Jurnalistik Sabtu (01/11)"

Untaian "Kata" PROFESI

Lembar berisikan berita milik PROFESI

SEPUTAR PROFESI

Pengrajin Gerabak sedang membakar karyanya agar kokoh.

Diskusi Bersama

Para Caleg (Calon Legislatif) KM FTI dalam acara Diskusi Bersama oleh LPM PROFESI

Pekan Taaruf FTI UII 2014

Suasana Pekan Taaruf (Pekta) 2014 di lingkungan FTI UII.

1/30/15

UII Mengawal KPK dan POLRI

FOTO: PROFESI/Tantowi “Mahasiswa UII kembali melakukan Aksi lanjutan dalam mengawal KPK dan POLRI”



Jumat (30/1/2015), Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) kembali melakukan aksi untuk mengawal dalam misi menyelamatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Aksi ini merupakan lanjutan dari aksi sebelumnya (26/1).
                Berbeda dengan aksi sebelumnya, lokasi yang digunakan untuk menggelar aksi tersebut bertempat di depan Auditorium Kahar Muzakir UII. Aksi yang dimulai pukul 10.00 WIB ini dihadiri Rektor UII Harsoyo dan Wakil Rektor III UII Abdul Jamil. Rektor UII juga membuat pernyataan secara resmi bahwa UII ikut mengawal dan ambil bagian terkait kriminalisasi dan politisasi di tubuh KPK dan POLRI.
                Terkait masalah tersebut, UII juga sudah menggugat ke Mahkamah Konstitusi namun ditolak. “UII sudah menggugat ke Mahkamah Konstitusi awal Januari berkaitan dengan KPK tapi gugatan kita ditolak,” Ungkap Jamil.
                Dalam aksi ini mahasiswa bergantian melakukan orasi. “Kami selalu mengawal kebobrokan moralitas, dari aksi kecil yang akan berdampak besar bagi Indonesia,”  orasi dari salah satu mahasiswa. Wakil Rektor III UII juga menyampaikan untuk kedepannya mahasiswa UII akan kembali melakukan aksi kembali apabila presiden belum juga bertindak tegas terkait masalah tersebut. UII juga akan mendatangkan langsung guru-guru besar UII dan meminta pendapat mereka diantaranya Mahfud MD dan Busyro Muqoddas serta melakukan kajian-kajian perihal persoalan bangsa ini. 

1/27/15

Wakil Rektor III UII: Kami rakyat yang jelas!

Mahasiswa UII menggelar Aksi #Save KPK di Kampus Terpadu UII”


Foto: PROFESI/Arbi “Wakil Rektor III dan Mahasiswa menggelar aksi di depan Kampus UII”


Dukungan untuk menyelamatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maupun Polri terus berdatangan. Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar aksi dukungan dan menggalang 1000 tanda tangan. Aksi tersebut dikoordinir oleh Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII.
            Aksi #Save KPK tersebut digelar di depan Kampus Terpadu UII di Jalan Kaliurang km 14,5 Yogyakarta, Senin (26/1/2015) pukul 15.30 WIB. Mahasiswa, dosen dan masyarakat bergabung menjadi satu dalam aksi tersebut. “Ini adalah bentuk kepedulian kami dengan keadaan KPK yang bukan lagi digoyah tapi sedang dihancurkan,” Ujar M.Ibnul, Korlap aksi tersebut.
            Selain berorasi, mahasiswa juga menggelar aksi dukungan dengan tanda tangan. 1000 buah tanda tangan digoreskan diatas sebuah kain putih yang tempatnya tidak jauh dari tempat orasi. Di tengah-tengah aksi juga turut hadir Abdul Jamil Wakil Rektor III UII, “Kami kecewa dengan bapak Presiden yang kurang tegas dengan masalah ini dan kami rakyat yang jelas, bukan yang tidak jelas,” Tegas Jamil. Beliau juga ikut berorasi untuk menyatakan dukungan terhadap keadan KPK dan Polri yang dikriminalisasi dan dipolitisasi. “Kami meminta kepada Presiden untuk membebaskan Polri dari intrik-intrik politik,” Kata Jamil dalam orasinya. Sementara para mahasiswa berorasi secara bergantian. Mereka menuntut keadilan untuk KPK dan mereka juga menyatakan menolak bila kasus tersebut dipolitisasi.
            Saat aksi itu berlangsung, tidak mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Hanya dijaga dua anggota kepolisian dari Polsek Ngaglik untuk mengatur lalu lintas disekitaran area aksi.


Foto: PROFESI/Arbi “1000 tanda tangan untuk KPK”

(Liputan oleh Tantowi Alwi reportase bersama Warih Arbi)

1/16/15

Ironi Antini, Penjual Jasa Ketik Manual

“Dididik oleh situasi sehingga saya jadi perempuan mandiri, saya harus berjuang agar anak-anak bisa makan makanan yang halal, mungkin sekarang serba susah, tetapi insya Allah ke depannya saya yakin lebih baik”

FOTO: Tantowi/PROFESI “Antini, saat sedang menunggu pencari jasanya
di Jalan Colombo Depan Kampus UNY”



            Antini (43) adalah seorang wanita paruh baya yang menjual jasa ketik manual di era teknologi yang sudah serba maju dan canggih. Menjadi penjual jasa ketik bukan baru saja dilakoninya, ia sudah menggeluti pekerjaannya sejak tahun 1991. Saat itu ia baru menuntaskan sekolahnya di bangku SMK –dulu disebut SMEA– yaitu di SMK NEGERI 1 Bantul.Sebelum punya jasa ketik manual sendiri, Antini bekerja selama satu tahun di penyedia jasa ketik orang lain. “Tahun 1992 saya pertama kali buka jasa di depan Auditorium RRI selama empat tahun lebih, setelah itu baru pindah di pertigaan Jalan Colombo,” tutur Antini sembari tersenyum. Karena pelanggannya tidak banyak lagi, wanita yang memiliki dua anak ini pindah ke depan Gedung Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta sambil kerja di kios buah sebelah jasa ketiknya demi mencukupi kebutuhan dua orang anaknya.
            Wanita yang tinggal di Dusun Ngincep, kelurahan Triwidadi, kecamatan Pajangan, Bantul ini membuka jasa ketiknya mulai pukul 09.00-18.00 dari Senin sampai Sabtu. Antini mengaku senang dengan pekerjaannya, “jujur saya senang dengan pekerjaan ini, karena bisa dapat uang, dapat teman dan pengetahuan baru,” kata Antini. Pada tahun 1997 teman-teman sesama tukang ketik banyak yang beralih profesi karena semakin hari seiring dengan kecanggihan teknologi komputer‎, membuat pendapatan mereka semakin menurun. “Ada yang buka laundry, kerja di pabrik, ada Pak Ali yang sekarang jualan degan, saya aja yang bandel,” ujar Antini sambil tertawa. Antini juga sering ditanyai teman-temannya karena masih bertahan dengan pekerjaannya ini.
            Kalau ramai Antini bisa mengantongi Rp 30.000-50.000 per hari. Untuk tarif pada jasa ketiknya dikenakan biaya rata-rata Rp3000-5000 per lembarnya.  "Dulu, harga ketik 1 lembar Rp 700 rupiah, saat itu mahasiswa kan ngetik skripsi, transkrip nilai masih pakai mesin ketik‎,” ujarnya.
Pelanggan jasa ketiknya memang tak banyak lagi. Hanya ebberapa pelanggan saja yang masih menggunakan jasanya. Namun Antini tak mau patah semangat. “Dididik oleh situasi sehingga saya jadi perempuan mandiri, saya harus berjuang agar anak-anak bisa makan makanan yang halal, mungkin sekarang serba susah insya Allah untuk kedepannya saya yakin lebih baik,” pungkasnya.
(Tantowi Alwi)

1/12/15

KAHAM UII Peringati Humanity Day

“Momen awal tahun ini kami gunakan untuk berupaya dalam  meningkatkan pencegahan dan menghapuskan segala tindak kekerasan terhadap anak,”

Foto: Tantowi/PROFESI “saat berlangsungnya talkshow yang diadakan oleh UKM KAHAM UII”


Dalam rangka memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Desember, Unit Kegiatan Mahasiswa Klinik Advokasi dan Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (UKM KAHAM UII) mengadakan serangkaian acara pada tanggal 8-10 Desember 2014. Rangkaian acara yang diberi nama Humanity Day tersebut bersifat memberikan penyuluhan, sosialisasi serta pemahaman tentang Hak Asasi Manusia kepada mahasiswa.
Sebagai puncak dari rangkaian acara tersebut, UKM KAHAM UII mengadakan talkshow dengan tema “Peranan mahasiswa dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak” pada Sabtu (10/1/2015) di Gedung Kuliah Umum Kampus Terpadu UII. Acara yang dimulai pukul 09.45 WIB tersebut diawali dengan sambutan dari Ketua KAHAM UII yaitu Amjad Fauzan dan Edi Subagyo sebagai ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII. Kemudian perwakilan dari Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) UII juga memberikan sambutan sekaligus membuka acara talkshow tersebut.
 “Momen awal tahun ini kami gunakan untuk berupaya dalam  meningkatkan pencegahan dan menghapuskan segala tindak kekerasan terhadap anak,” ujar Amjad.  Dalam kesempatan ini, ketua LEM UII mengajak untuk bersama-sama mengampanyekan menolak tindak kekerasan terhadap anak. Perwakilan DPM UII juga menyampaikan bahwa kekerasan terhadap  anak sangat fundamental namun pengaruhnya sangat besar di masa depan.
            Menurut data (Sumber: Liputan 6 SCTV) kekerasan terhadap anak di Indonesia meningkat 60% dari tahun 2012-2013. Terdapat 1620 kasus di tahun 2013, yang masing-masing 490 kasus kekerasan fisik, 313 kasus  kekerasan psikis, dan 817 kasus kekerasan seksual. Pelaku kekerasan terhadap anak itu sendiri adalah 24% keluarga, 56% sosial dan 17% sekolah. Karena banyaknya kekerasan terhadap anak di Indonesia, UKM KAHAM UII menggunakan isu tersebut serta peranan mahasiswa di lingkungan sosial untuk dijadikan tema talkshow dalam rangkaian acara Humanity Day.
            Talkshow yang diadakan UKM KAHAM UII menghadirkan dua pembicara yaitu Yadi Kasmorejo dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) DIY dan Andra Septian, seorang aktivis anak. LPA melalui Yadi Kasmorejo membeberkan setiap tahun ± 3.000.000 kasus aborsi di Indonesia, perceraian tidak kurang dari 200.000 kasus setiap tahunnya dan hampir setiap saat terjadi pembuangan bayi di DIY. “Semua kasus ini yang menjadi korban adalah anak-anak,” jelas Yadi. Menurut Yadi mahasiswa juga ikut menjadi pelaku dalam kasus-kasus tersebut. Dari segi fisik dan psikis anak-anak memang menjadi korbannya, contohnya saja anak-anak yang terlahir kurang sempurna, sebagian adalah hasil dari kegagalan percobaan aborsi sehingga ketika dilahirkan banyak yang fisiknya kurang sempurna. Dari segi psikis, banyak anak-anak melakukan perbuatan amoral dan perilaku menyimpang dikarenakan orang tuanya bercerai. Andra Septian mengatakan dari segi psikologis usia remaja berada pada tahapan untuk coba-coba, pengetahuan yang kurang serta secara emosional yang masih labil. “Rasa keingintahuan sangat kuat tapi tidak dibarengi dengan pengetahuan yang cukup,” lanjut Andra.
            Di dalam Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 tentang Pemenuhan dan Perlindungan anak di Indonesia menjadi suatu acuan yang berfungsi sebagai penegas peranan negara dalam melindungi anak dari tindak kekerasan. Yadi mengungkapkan Negara belum menunjukkan perannya terkait upaya-upaya pencegahan kekerasan terhadap anak serta jaminan sosial untuk korban kekerasan terhadap anak. “Lembaga Perlindungan Anak selalu bermitra dalam mencari solusi permasalahan sosial, jarang sekali ke pemerintah karena terkendala birokrasi,” ungkap Yadi.
            Di penghujung acara, Andra berpesan apapun cara yang dipilih dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dari mahasiswa tetap harus dengan tujuan awal dan menjaga komitmennya. Di akhir pembicaraan, Yadi mengajak mahasiswa harus memberdayakan kecanggihan teknologi informasi agar semua ilmu dan informasi sampai ke seluruh lapisan masyarakat. (Oleh: Tantowi Alwi)

1/8/15

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Adakan Acara 9 SKS


“Mahasiswa ilmu komunikasi mengadakan pameran karya-karya kreatif mahasiswa”



Mahasiswa ilmu komunikasi mengadakan pameran hasil karya-karya mahasiswa ilmu komunikasi di Auditorium Kahar Muzakir kampus terpadu UII. Nama dari acara ini adalah 9 sks dan bertujuan untuk mengapresiasi karya-karya kreatif mahasiswa ilmu komunikasi. Acara yang berlangsung selama dua hari (6-7 Januari 2015) mengusung tema “Pameran Karya Mahasiswa Kreatif Komunikasi.”
Nama “9sks” lahir karena adanya tugas dari tiga mata kuliah yang masing-masing berjumlah 3sks dan diampu oleh dosen yang sama serta usulan dari prodi untuk memamerkan tugas-tugas tersebut. Berbagai rangkaian acara menjadi andalan pameran ini. Diantaranya, diskusi foto dokumenter, diskusi film dokumenter, dan karya media kreatif. “Sebenarnya yang kami utamakan pamerannya,” beber Reza selaku ketua panitia.
Acara yang dibuka oleh Arief Fahmi, Dekan Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya (FPSB) ini tidak berjalan dengan baik dikarenakan pada hari kedua acara (7/1) listrik dipadamkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk melakukan maintenance/pemeliharaan disekitaran UII sehingga pemutaran film dokumenter dibatalkan. “Tadi pagi sebenarnya sudah ada pemutaran film, tapi sebagiannya lagi terkendala oleh PLN yang melakukan pemeliharaan, sangat disayangkan karya teman-teman ada yang tidak dipamerkan,” lanjut Reza.
Pendanaan acara ini, Reza menuturkan disamping dana dari pihak sponsor, setiap panitia juga menyumbangkan sebagian uang mereka sebesar 100.000 rupiah. Sehingga acara ini free entry untuk umum alias gratis.

Tolak ukur kesuksesan acara ini tidak terlalu dipikirkan oleh Reza sebagai ketua panitia. “Karena ini baru pertama kali, jadi acara ini sudah jalan saja sudah cukup sukses bagi saya,” tutup Reza. (Oleh: Tantowi Alwi. Reportase bersama: Tri Retno)