1/30/15
1/27/15
Wakil Rektor III UII: Kami rakyat yang jelas!
1/27/2015
No comments
“Mahasiswa UII menggelar Aksi #Save KPK di
Kampus Terpadu UII”
Foto:
PROFESI/Arbi “Wakil Rektor III dan Mahasiswa menggelar aksi di depan Kampus
UII”
Dukungan
untuk menyelamatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maupun Polri terus
berdatangan. Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar aksi
dukungan dan menggalang 1000 tanda tangan. Aksi tersebut dikoordinir oleh
Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII.
Aksi #Save
KPK tersebut digelar di depan Kampus Terpadu UII di Jalan Kaliurang km 14,5
Yogyakarta, Senin (26/1/2015) pukul 15.30 WIB. Mahasiswa, dosen dan masyarakat
bergabung menjadi satu dalam aksi tersebut. “Ini adalah bentuk kepedulian kami
dengan keadaan KPK yang bukan lagi digoyah tapi sedang dihancurkan,” Ujar
M.Ibnul, Korlap aksi tersebut.
Selain
berorasi, mahasiswa juga menggelar aksi dukungan dengan tanda tangan. 1000 buah
tanda tangan digoreskan diatas sebuah kain putih yang tempatnya tidak jauh dari
tempat orasi. Di tengah-tengah aksi juga turut hadir Abdul Jamil Wakil Rektor
III UII, “Kami kecewa dengan bapak Presiden yang kurang tegas dengan masalah
ini dan kami rakyat yang jelas, bukan yang tidak jelas,” Tegas Jamil. Beliau
juga ikut berorasi untuk menyatakan dukungan terhadap keadan KPK dan Polri yang
dikriminalisasi dan dipolitisasi. “Kami meminta kepada Presiden untuk
membebaskan Polri dari intrik-intrik politik,” Kata Jamil dalam orasinya.
Sementara para mahasiswa berorasi secara bergantian. Mereka menuntut keadilan
untuk KPK dan mereka juga menyatakan menolak bila kasus tersebut dipolitisasi.
Saat
aksi itu berlangsung, tidak mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian.
Hanya dijaga dua anggota kepolisian dari Polsek Ngaglik untuk mengatur lalu
lintas disekitaran area aksi.
Foto:
PROFESI/Arbi “1000 tanda tangan untuk KPK”
(Liputan oleh Tantowi Alwi reportase bersama Warih Arbi)
1/16/15
Ironi Antini, Penjual Jasa Ketik Manual
1/16/2015
No comments
“Dididik oleh situasi
sehingga saya jadi perempuan mandiri, saya harus berjuang agar anak-anak bisa
makan makanan yang halal, mungkin sekarang serba susah, tetapi insya Allah ke depannya saya yakin lebih baik”
1/12/15
KAHAM UII Peringati Humanity Day
1/12/2015
No comments
“Momen awal
tahun ini kami gunakan untuk berupaya dalam
meningkatkan pencegahan dan menghapuskan segala tindak kekerasan
terhadap anak,”
![]() |
| Foto:
Tantowi/PROFESI “saat berlangsungnya talkshow yang diadakan oleh UKM KAHAM UII” |
Dalam rangka memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Desember, Unit
Kegiatan Mahasiswa Klinik Advokasi dan Hak Asasi Manusia Universitas Islam
Indonesia (UKM KAHAM UII) mengadakan serangkaian acara pada tanggal 8-10
Desember 2014. Rangkaian acara yang diberi nama Humanity Day tersebut bersifat memberikan penyuluhan, sosialisasi
serta pemahaman tentang Hak Asasi Manusia kepada mahasiswa.
Sebagai puncak dari rangkaian acara tersebut, UKM KAHAM
UII mengadakan talkshow dengan tema
“Peranan mahasiswa dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak” pada Sabtu
(10/1/2015) di Gedung Kuliah Umum Kampus Terpadu UII. Acara yang dimulai pukul 09.45 WIB tersebut diawali dengan sambutan
dari Ketua KAHAM UII yaitu Amjad Fauzan dan Edi Subagyo sebagai ketua Lembaga
Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII. Kemudian perwakilan dari Dewan Permusyawaratan
Mahasiswa (DPM) UII juga memberikan sambutan sekaligus membuka acara talkshow tersebut.
“Momen awal tahun
ini kami gunakan untuk berupaya dalam
meningkatkan pencegahan dan menghapuskan segala tindak kekerasan
terhadap anak,” ujar Amjad. Dalam kesempatan
ini, ketua LEM UII mengajak untuk bersama-sama mengampanyekan menolak tindak
kekerasan terhadap anak. Perwakilan DPM UII juga menyampaikan bahwa kekerasan
terhadap anak sangat fundamental namun
pengaruhnya sangat besar di masa depan.
Menurut data (Sumber: Liputan 6 SCTV) kekerasan terhadap anak
di Indonesia meningkat 60% dari tahun 2012-2013. Terdapat 1620 kasus di tahun
2013, yang masing-masing 490 kasus kekerasan fisik, 313 kasus kekerasan psikis, dan 817 kasus kekerasan
seksual. Pelaku kekerasan terhadap anak itu sendiri adalah 24% keluarga, 56%
sosial dan 17% sekolah. Karena banyaknya kekerasan terhadap anak di Indonesia,
UKM KAHAM UII menggunakan isu tersebut serta peranan mahasiswa di lingkungan sosial
untuk dijadikan tema talkshow dalam
rangkaian acara Humanity Day.
Talkshow yang diadakan UKM KAHAM UII menghadirkan dua pembicara yaitu
Yadi Kasmorejo dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) DIY dan Andra Septian,
seorang aktivis anak. LPA melalui Yadi Kasmorejo membeberkan setiap tahun ±
3.000.000 kasus aborsi di Indonesia, perceraian tidak kurang dari 200.000 kasus
setiap tahunnya dan hampir setiap saat terjadi pembuangan bayi di DIY. “Semua
kasus ini yang menjadi korban adalah anak-anak,” jelas Yadi. Menurut Yadi
mahasiswa juga ikut menjadi pelaku dalam kasus-kasus tersebut. Dari segi fisik
dan psikis anak-anak memang menjadi korbannya, contohnya saja anak-anak yang
terlahir kurang sempurna, sebagian adalah hasil dari kegagalan percobaan aborsi
sehingga ketika dilahirkan banyak yang fisiknya kurang sempurna. Dari segi psikis,
banyak anak-anak melakukan perbuatan amoral dan perilaku menyimpang dikarenakan
orang tuanya bercerai. Andra Septian mengatakan dari segi psikologis usia
remaja berada pada tahapan untuk coba-coba, pengetahuan yang kurang serta
secara emosional yang masih labil. “Rasa keingintahuan sangat kuat tapi tidak
dibarengi dengan pengetahuan yang cukup,” lanjut Andra.
Di dalam Undang-Undang
Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 tentang Pemenuhan dan Perlindungan anak di
Indonesia menjadi suatu acuan yang berfungsi sebagai penegas peranan negara
dalam melindungi anak dari tindak kekerasan. Yadi mengungkapkan Negara belum menunjukkan
perannya terkait upaya-upaya pencegahan kekerasan terhadap anak serta jaminan
sosial untuk korban kekerasan terhadap anak. “Lembaga Perlindungan Anak selalu
bermitra dalam mencari solusi permasalahan sosial, jarang sekali ke pemerintah
karena terkendala birokrasi,” ungkap Yadi.
Di penghujung acara, Andra
berpesan apapun cara yang dipilih dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap
anak dari mahasiswa tetap harus dengan tujuan awal dan menjaga komitmennya. Di
akhir pembicaraan, Yadi mengajak mahasiswa harus memberdayakan kecanggihan
teknologi informasi agar semua ilmu dan informasi sampai ke seluruh lapisan
masyarakat. (Oleh: Tantowi Alwi)
1/8/15
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Adakan Acara 9 SKS
1/08/2015
No comments
“Mahasiswa
ilmu komunikasi mengadakan pameran karya-karya kreatif mahasiswa”
Mahasiswa ilmu
komunikasi mengadakan pameran hasil karya-karya mahasiswa ilmu komunikasi di
Auditorium Kahar Muzakir kampus terpadu UII. Nama dari acara ini adalah 9 sks
dan bertujuan untuk mengapresiasi karya-karya kreatif mahasiswa ilmu
komunikasi. Acara yang berlangsung selama dua hari (6-7 Januari 2015) mengusung
tema “Pameran Karya Mahasiswa Kreatif Komunikasi.”
Nama “9sks”
lahir karena adanya tugas dari tiga mata kuliah yang masing-masing berjumlah
3sks dan diampu oleh dosen yang sama serta usulan dari prodi untuk memamerkan
tugas-tugas tersebut. Berbagai rangkaian acara menjadi andalan pameran ini.
Diantaranya, diskusi foto dokumenter, diskusi film dokumenter, dan karya media
kreatif. “Sebenarnya yang kami utamakan pamerannya,” beber Reza selaku ketua
panitia.
Acara yang
dibuka oleh Arief Fahmi, Dekan Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya (FPSB) ini
tidak berjalan dengan baik dikarenakan pada hari kedua acara (7/1) listrik
dipadamkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk melakukan maintenance/pemeliharaan disekitaran UII
sehingga pemutaran film dokumenter dibatalkan. “Tadi pagi sebenarnya sudah ada
pemutaran film, tapi sebagiannya lagi terkendala oleh PLN yang melakukan
pemeliharaan, sangat disayangkan karya teman-teman ada yang tidak dipamerkan,”
lanjut Reza.
Pendanaan acara
ini, Reza menuturkan disamping dana dari pihak sponsor, setiap panitia juga
menyumbangkan sebagian uang mereka sebesar 100.000 rupiah. Sehingga acara ini free entry untuk umum alias gratis.
Tolak ukur
kesuksesan acara ini tidak terlalu dipikirkan oleh Reza sebagai ketua panitia.
“Karena ini baru pertama kali, jadi acara ini sudah jalan saja sudah cukup
sukses bagi saya,” tutup Reza. ( Oleh: Tantowi Alwi. Reportase bersama: Tri Retno)
Subscribe to:
Comments (Atom)










