SEPUTAR PROFESI

"LPM PROFESI FTI UII Adakan Workshop Jurnalistik Sabtu (01/11)"

Untaian "Kata" PROFESI

Lembar berisikan berita milik PROFESI

SEPUTAR PROFESI

Pengrajin Gerabak sedang membakar karyanya agar kokoh.

Diskusi Bersama

Para Caleg (Calon Legislatif) KM FTI dalam acara Diskusi Bersama oleh LPM PROFESI

Pekan Taaruf FTI UII 2014

Suasana Pekan Taaruf (Pekta) 2014 di lingkungan FTI UII.

9/4/14

Pelanggaran di PESTA 2014

Pesona Ta’aruf Universitas Islam Indonesia (PESTA UII) 2014 dilaksanakan pada tanggal 3-4 September 2014. Pada hari pertama PESTA, mahasiswa dan mahasiswi baru (maba-miba) diwajibkan untuk membawa berbagai macam atribut dan perlengkapan. Tetapi masih banyak maba-miba yang tidak membawa atribut dan perlengkapan.           
            Atribut dan perlengkapan yang wajib dibawa adalah co-card, buku bacaan dan sembako untuk bakti sosial, alat sholat, alat tulis, dan balon gas. Khusus untuk balon gas, panitia memberikan peraturan khusus, yaitu jika harganya lebih dari Rp10.000 maka maba-miba diperbolehkan untuk tidak membawanya.
            Salah satu maba yang melanggar adalah Fachri dari Fakultas Ekonomi. Ia akhirnya mendapat hukuman karena tidak membawa alat sholat dengan alasan lupa membawanya karena terburu-buru pergi. Fachri dihukum membaca ayat Al-Qur’an oleh Divisi Keamanan PESTA.
            Tak hanya Fachri, masih ada banyak lagi maba-miba yang tidak membawa atribut dan perlengkapan. Ada yang tidak memakai peci, tidak membawa co-card, dan atribut lainnya. Berbagai alasan diberikan ke panitia antara lain lupa, terbawa oleh teman, dan berbagai macam alasan lainnya.
            Selain membawa berbagai macam atribut dan perlengkapan, ada juga aturan untuk pakaian yang dikenakan. Para maba diharuskan untuk memakai kemeja berwarna putih, celana dasar hitam, dasi hitam, peci, dan sepatu hitam. Sedangkan para miba harus menggunakan atasan kurung warna putih, rok panjang hitam, jilbab putih, dan juga memakai sepatu berwarna hitam.
            Salah satu maba dari Fakultas Ilmu Agama Islam mendapat hukuman untuk mengumandangkan adzan oleh panitia. Maba jurusan Ekonomi Islam ini mengungkapkan bahwa dia menerima hukuman karena dia melanggar peraturan yang ada, yaitu memakai sepatu berwarna cokelat. Dia juga menambahkan bahwa ia menerima hukuman yang diberikan oleh panitia karena sudah melanggar peraturan yang sudah ditetapkan.
            Dengan tidak membawa atribut, perlengkapan,dan juga tidak mengikuti aturan, panitia memberikan hukuman kepada yang melanggar. Hukuman yang diberikan oleh panitia adalah menyanyikan lagu nasional, mengumandangkan adzan, dan membaca ayat-ayat Al Qur’an. Setelah mendapatkan hukuman yang diberikan oleh panitia, maba-miba yang melanggar kembali ke masing-masing jamaahnya untuk mengikuti acara selanjutnya. (Reiny, Ryan)                

MAKAN NASI ATAU MAKAN “HATI” ?

“kita dari SC mohon maaf terkait keterlambatan ini, kita berjanji untuk hari-H PESTA tidak ada keterlambatan lagi. 

       Disela-sela kegiatan Pra Pesona Ta’aruf (PESTA) 2014 pada (2/9), mahasiswa-mahasiswi baru UII didata untuk keperluan konsumsi selama Pra dan pada hari-H PESTA.  Ada kekurangan ketika pendataan tersebut, yaitu banyaknya mahasiswa baru yang hadir di luar perkiraan panitia sehingga menyebabkan terlambatnya konsumsi tambahan di luar perhitungan jajaran SC PESTA. Hal ini disebabkan kesalahan perhitungan dari steering committee (SC) dan keterlambatan maba-miba yang hadir ke Pra PESTA.
  Adanya insiden tersebut membuat Abdul Jamil, wakil rektor III marah dengan prediksi panitia yang kurang tepat. “Prediksimu bagaimana? seharusnya kamu tepat,” nada marah Jamil kepada panitia. Ketua SC Pesona Ta’aruf juga membenarkan adanya kejadian tersebut, “Kita dari SC mohon maaf terkait keterlambatan ini, kita berjanji untuk hari-H PESTA tidak ada keterlambatan lagi," ungkap Hafid.
  Panitia PESTA memperkirakan lima ribuan mahasiswa baru yang akan datang pada Pra PESTA dari 6441 mahasiswa baru UII. Ternyata berbeda ketika dilapangan, ± 5700 maba UII yang ikut Pra Pesta. Akibat dari animo mahasiwa baru yang tinggi, panitia yang terkait dengan insiden tersebut keteteran mengatasinya.
  Dari data final panitia, ada enam jemaah atau dua ratus lebih mahasiswa baru yang tidak mendapatkan konsumsi di Pra PESTA. Panitia hanya menyanggupi lima ratus untuk menutupi kekurangan konsumsi peserta Pra PESTA. Tindakan lanjut dari panitia adalah memberikan dua pilihan kepada para peserta, yaitu mengembalikan uang ke peserta atau wali jemaah (waljam) dan membelikan snack. Tanggapan mahasiswa baru juga beragam, ada yang mau dibelikan snack, sebagian lagi makan setelah kegiatan selesai.
   Menanggapi tindakan panitia, Pak Jamil juga mengapresiasi respon dan kerja sama antar panitia. “Saya anggap sudah bagus, kerja sama antar panitia,” lanjut Jamil. Wakil Rektor III UII tersebut berpesan panitia harus lebih aktif lagi ketika menghadapi kondisi-kondisi yang di luar perkiraan atau konsep yang sudah ada. (Tantowi)
   

Gerbang Sempit, Lalu Lintas Rumit

Kuliah perdana  telah terlaksana, mahasiswa  baru bersiap menghadapi rangkaian pengenalan lingkungan  kampus atau disebut OSPEK. Di Universitas Islam Indonesia  OSPEK  dinamakan dengan PESTA (Pesona Ta’aruf). Mahasiswa baru dari seluruh fakultas berkumpul  di kampus terpadu untuk melaksanakan serangkaian acara PESTA.
Ada yang sedikit berbeda dalam PESTA  2014 kali ini. Pelaksanaan pesta berbarengan  dengan pembangunan beberapa infrastruktur seperti  pelebaran dan pergantian paving boulevard, pembangunan taman dan  pendirian toko buku. Namun pelebaran dan pergantian paving boulevard yang belum kelar menyebabkan pintu masuk bagian selatan tidak dapat diakses, sehingga dalam PESTA 2014 hanya menggunakan satu pintu masuk.
Akibat dari pengurangan jalan masuk  tersebut, para mahasiswa  maupun dosen dan karyawan yang menggunakan kendaraan tidak dapat mengakses pintu masuk tersebut. Menurut Eko Priyandono, salah satu staff Departement Keamanan PESTA 2014, pintu masuk untuk mahasiswa baru maupun karyawan yang memakai kendaraan dialihkan lewat Degolan, sehingga para mahasiswa dan para karyawan tersebut harus memutar melewati pintu masuk bagian belakang agar bisa masuk ke wilayah kampus. Dia juga menambahkan bahwa hal ini dilakukan agar tidak terjadi tabrakan dengan  kendaraan lain maupun dengan  pejalan kaki.
Guna meningkatkan keamanan, pihak Departemen Keamanan PESTA 2014 berkoordinasi dengan security dan juga menwa untuk proses kelancaran lalu lintas. Wilayah pintu masuk akan disterilkan untuk mahasiswa baru yang mengikuti rangkaian PESTA 2014 dari jam 6 sampai jam 8 guna proses kelancaran mahasiswa baru mengikuti PESTA 2014 yang sedang berlangsung.
Untuk penempatan parkiran,  kendaraan akan ditempatkan dilapangan bola UII depan D3 ekonomi, dimana sebelumnya pada pintu masuk dekat FTSP mahasiswa baru diharuskan untuk mendorong kendaraannya. Untuk penjagaan wilayah parkiran, departemen keamanan PESTA telah menempatkan staff-staffnya untuk menjaga kendaraan tersebut. Ketika rangkaian PESTA 2014 hari pertama telah dilaksanakan, mahasiswa baru yang hendak pulang wajib memperlihatkan STNK guna meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. (Arbi, Yadi)

Atribut Kami Tak Berstempel


Stempel yang sejumlah tiga buah itu tentu saja tidak mencukupi untuk menstempel atribut-atribut dari delapan puluh jamaah yang rata-rata setiap jamaah berjumlah delapan puluh.

Keramaian mulai terlihat seusai azan ashar berkumandang dihari itu, selasa 2/9. Peserta Pesona Ta’aruf mulai berhamburan meninggalkan area pelaksanaan pesona ta’aruf (pesta) yang dilaksanakan di belakang gedung Kahar Muzakkir. Acara yang diagendakan pada hari itu telah usai. Pokok dari agenda hari itu adalah pembuatan atribut yang wajib berstempel dari panitia pesta. Peserta pesta diwajibkan mengikuti kegiatan prapesta sebagai syarat wajib agar dapat mengikuti acara pesta dua hari mendatang.
Sesuai dengan rundown yang telah disebarkan kepada panitia, khususnya wali jamaah sebagai pemandu mahasiswa baru, semua acara berjalan dengan cukup lancar. Pada rundown itu tertulis pembuatan atribut dimulai seusai ISOMA, namun sebelum waktu yang telah dijadwalkan telah terlihat aktivitas pembuatan atribut. Sesampai waktu isoma, para waljam dari masing-masing jamaah diwajibkan untuk mengumpulkan atribut yang telah dibuat oleh para mahasiswa baru. Tujuan dari pengumpulan atribut ini adalah untuk mendapatkan stempel yang disyaratkan untuk hari esok. Tentu saja hal ini tidak sesuai rundown yang telah ada.
Salah satu wali jamaah menuturkan bahwa ada perubahan rundown untuk acara hari itu. Perubahan dilakukan pagi hari sebelum acara dimulai, sehingga banyak panitia yang belum memiliki rundown terbaru. “rundownn yang baru cuman tulisan tangan anak acara terus difotocopy” papar Fahmi.
Terjadi kesalah pahaman mengenai acara dihari itu, terutama pembuatan atribut. Selain kesalah pahaman mengenai waktu pelaksanaan, terjadi pula kesalah pahaman mengenai sistem menstempel atribut yang seharusnya dilakukan perseorangan dengan cara mengantre. Terlihat kondisi acara berjalan tidak tepat dengan rencana, kegiatan menstempel dilakukan dengan cara yang berbeda dari rencana. Wali jamaah diinstruksikan untuk mengumpulkan semua atribut masing-masing jamaahnya untuk kemudian distempel. Kegiatan menstempel dilakukan sewaktu isoma  oleh  Steering Comitte yang berjumlah tiga orang.
Stempel sejumlah tiga buah itu tentu saja tidak mencukupi untuk menstempel atribut-atribut dari delapan puluh jamaah yang rata-rata setiap jamaah berjumlah delapan puluh. Akibatnya, tentu saja ada. Banyak maba yang tidak mendapatkan stempel dari panitia. Salah satu mahasiswa baru yang tidak berkenan disebutkan namanya mengatakan bahwa semua maba dari jamaahnya tidak mendapatkan stempel panitia.
Peraturan yang dibuat oleh komisi B salah satunya adalah atribut wajib berstempel dan stempel itu bisa didapatkan sewaktu acara prapesta. Aturan yang telah disahkan itu kini telah dirubah. Banyaknya mahasiswa baru yang tidak mendapatkan stempel menjadi sebab dari perubahan kebijakan dari komisi B ini.
Beberapa mahasiswa baru yang berasal dari FMIPA mengungkapkan kekecewaannya saat ditemui seusai acara prapesta. Mereka mengeluhkan perubahan-perubahan kebijakan yang dilakukan secara mendadak ini. Perubahan aturan yang hanya disebarkan melalui sms dan sosial media dianggap kurang meyakinkan.(Retno)

Kami Jamaah DR Wahidin

          Rangkaian kegiatan pesona ta’aruf (PESTA) sudah dilaksanakan mulai dari Senin (1/9) di kampus terpadu Universitas Islam Indonesia (UII). Pada Selasa (2/9) pagi, kegiatan pra PESTA dilaksanakan satu persatu sesuai rundown acara yang telah disusun oleh panitia PESTA. Mulai dari absensi hingga pengkondisian penempatan jamaah-jamaah, semua dipandu oleh wali jamaah (waljam). Setiap WalJam memandu mahasiswa dan mahasiswi baru (maba dan miba) selama kegiatan dilaksanakan.
Salah satu rundown kegiatan pra PESTA adalah kegiatan perkenalan dan pembuatan atribut.  Untuk pelaksanaan kegiatan, setiap jamaah dikondisikan untuk mencari tempat disekitar wilayah kampus terpadu uii. Semua jamaah berpencar mengikuti instruksi dari masing-masing waljamnya.
Di pojok kanan belakang gedung perpustakaan pusat UII terlihat beberapa kelompok jamaah yang sedang melaksanakan rangkaian kegiatan. Salah satu jamaah itu adalah jamaah 32 dengan nama jamaah DR Wahidin S. Sewaktu jamaah lain,  yang berjumlah sekitar delapan puluh orang per jamaah, tengah saling berkenalan dengan rekan jamaa, terlihat keigiatan yang berbeda pada jamaah 32 ini. Jamaah yang terlihat dipandu oleh satu wali jamaah ini tengah memulai kegiatan pembuatan atribut yang akan digunakan pada saat pelaksanaan PESTA. Terlihat jamaah DR Wahidin ini mendahului jamaah lain dalam memulai aktivitas pembuatan atibut.
Ketika PROFESI mengklarifikasi hal tersebut, wali jamaah 32 menuturkan bahwa ia lupa akan salah satu rundown yaitu perkenalan maba dan miba dalam jamaah. Setiap wali jamaah telah diberikan rundown sebagai patokan dalam melaksanakan acara pesta, tak terkecuali wali jamaah dari jamaah 32 ini. Ia mengaku bahwa ia membawa rundown ditangannya namun dia lupa akan kegiatan perkenalan, sehingga kegiatan pembuatan atribut yang telah dimulai terpaksa diberhentikan dan memulai kegiatan perkenalan. Wali jamaah yang hanya bertugas sendiri itu terlihat kualahan dalam mengatasi hal ini.
Kelalaian wali jamaah tersebut menyebabkan kegiatan berjalan tidak sesuai rundown. Kegiatan perkenalan dalam jamaah menjadi terlambat karena telah diawali pembuatan atribut dan pengkondisian kembali setelah pembuatan atribut itu diberhentikan untuk sementara waktu. (Retno)