Stempel yang sejumlah
tiga buah itu tentu saja tidak mencukupi untuk
menstempel atribut-atribut dari delapan puluh jamaah yang rata-rata setiap
jamaah berjumlah delapan puluh.
Keramaian mulai terlihat seusai azan ashar
berkumandang dihari itu, selasa 2/9. Peserta Pesona Ta’aruf mulai berhamburan
meninggalkan area pelaksanaan pesona ta’aruf (pesta) yang dilaksanakan di
belakang gedung Kahar Muzakkir. Acara yang diagendakan pada hari itu telah
usai. Pokok dari agenda hari itu adalah pembuatan atribut yang wajib berstempel
dari panitia pesta. Peserta pesta diwajibkan mengikuti kegiatan prapesta
sebagai syarat wajib agar dapat mengikuti acara pesta dua hari mendatang.
Sesuai dengan rundown yang telah disebarkan kepada panitia, khususnya wali jamaah
sebagai pemandu mahasiswa baru, semua acara berjalan dengan cukup lancar. Pada rundown itu tertulis pembuatan atribut
dimulai seusai ISOMA, namun sebelum waktu yang telah dijadwalkan telah terlihat
aktivitas pembuatan atribut. Sesampai waktu isoma, para waljam dari
masing-masing jamaah diwajibkan untuk mengumpulkan atribut yang telah dibuat
oleh para mahasiswa baru. Tujuan dari pengumpulan atribut ini adalah untuk
mendapatkan stempel yang disyaratkan untuk hari esok. Tentu saja hal ini tidak
sesuai rundown yang telah ada.
Salah
satu wali jamaah menuturkan
bahwa ada perubahan rundown untuk acara
hari itu. Perubahan dilakukan pagi hari sebelum acara dimulai, sehingga banyak
panitia yang belum memiliki rundown
terbaru. “rundownn yang baru cuman tulisan tangan anak acara terus difotocopy”
papar Fahmi.
Terjadi kesalah pahaman mengenai acara
dihari itu, terutama pembuatan atribut. Selain kesalah pahaman mengenai waktu
pelaksanaan, terjadi pula kesalah pahaman mengenai sistem menstempel atribut
yang seharusnya dilakukan perseorangan dengan cara mengantre. Terlihat kondisi
acara berjalan tidak tepat dengan rencana, kegiatan menstempel dilakukan dengan
cara yang berbeda dari rencana. Wali jamaah diinstruksikan untuk mengumpulkan
semua atribut masing-masing jamaahnya untuk kemudian distempel. Kegiatan menstempel dilakukan sewaktu isoma
oleh Steering
Comitte yang berjumlah tiga orang.
Stempel sejumlah tiga buah itu tentu
saja tidak mencukupi untuk menstempel atribut-atribut dari delapan puluh jamaah
yang rata-rata setiap jamaah berjumlah delapan puluh. Akibatnya, tentu saja
ada. Banyak maba yang tidak mendapatkan stempel dari panitia. Salah satu
mahasiswa baru yang tidak berkenan disebutkan namanya mengatakan bahwa semua
maba dari jamaahnya tidak mendapatkan stempel panitia.
Peraturan yang dibuat oleh komisi B salah
satunya adalah atribut wajib berstempel dan stempel itu bisa didapatkan sewaktu
acara prapesta. Aturan yang telah disahkan itu kini telah dirubah. Banyaknya
mahasiswa baru yang tidak mendapatkan stempel menjadi sebab dari perubahan
kebijakan dari komisi B ini.
Beberapa mahasiswa baru yang berasal
dari FMIPA mengungkapkan kekecewaannya saat ditemui seusai acara prapesta.
Mereka mengeluhkan perubahan-perubahan kebijakan yang dilakukan secara mendadak
ini. Perubahan aturan yang hanya disebarkan melalui sms dan sosial media
dianggap kurang meyakinkan.(Retno)





0 comments:
Post a Comment