Oleh : Ianra dan Surya
Kegiatan akbar di Universitas
Islam Indonesia (UII) dalam menyambut mahasiswa baru telah memasuki hari kedua.
Kegiatan akbar itu tidak lain adalah Pesona Ta’aruf (PESTA) 2015. Salah satu
agenda pada Senin (24/08/15) adalah Simulasi Aksi. Kegiatan ini merupakan
kegiatan yang telah biasa diagendakan pada pelaksanaan PESTA.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa baru
dituntut untuk menumbuhkan sikap kritis, peduli, tidak malu menyampaikan
aspirasi, dan mengetahui gambaran dari aksi yang sebenarnya. Ketua Steering Committee (SC) PESTA 2015 menyampaikan, “Kita
perlu memberikan informasi, memberikan
keilmuan kepada mahasiswa baru. Aksi yang baik itu
seperti apa, aksi itu macamnya
apa. Jadi, mereka tidak menilai aksi tersebut seperti yang di berita,
kebanyakan yang dibahas aksi yang brutal, anarkis.”
Dalam Aksi, mahasiswa baru mengungkapkan aspirasinya melalui tulisan di kertas karton yang mereka bawa
masing-masing. Selanjutnya, beberapa dari mereka diberi kesempatan untuk
menyampaikan aspirasi secara langsung di panggung. Aspirasi mereka didengar
langsung oleh Tim Advokasi PESTA 2015, Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) UII, dan para mahasiswa baru.
Liza, salah satu peserta Aksi menuturkan, “Jujur, saya baru pertama kali ikutan
Aksi. Jadi kagum liat semangat-semangat mahasiswa baru. Mungkin banyak yang
seperti saya yang baru pertama kali mengikuti (Aksi). Liza juga berpendapat bahwa Aksi tersebut bisa
meningkatkan semangat untuk lebih
berpikir kritis.
Siti, seorang peserta dari Jama’ah 47 berkesempatan menjadi wakil dari mahasiswa baru dalam menyampaikan
aspirasi. Peserta Aksi yang merupakan mahasiswa Jurusan
Psikologi ini dengan sangat percaya diri mengungkapkan ketidaksetujuan mengenai
mahalnya sumbangan Catur Dharma UII. Siti juga menyampaikan keluhan
peserta PESTA yang dibiarkan
panas-panasan dan diberi konsumsi yang tidak memuaskan (bagi mereka). Hal ini
diamini oleh Umu, peserta Aksi dari Jurusan Hubungan Internasional. “Kami
tidak puas atas konsumsi yang disediakan karena tidak sesuai dengan kualitas
yang seharusnya diterima,” jelas Umu. Namun, beberapa panitia PESTA terlihat berteriak dan
menyampaikan ketidaksetujuannya atas keluhan peserta Aksi.
Di sisi lain, Wakil Rektor III, Abdul Jamil
menyampaikan bahwa ia mendukung kegiatan tersebut. “Ya bagus. Mahasiswa itu kan
ada dua, akademik dan dan non akademik. Akademik itu juga berbasis menghasilkan
produk ke rakyat. Non akademik juga harus berdampak kepada rakyat. Salah
satunya yang berdampak ke masyarakat itu diantaranya bagaimana (cara) berpihak
pada rakyat. Nah, ini (Aksi) adalah latihan berpihak kepada rakyat, karena
mahasiswa itu adalah Social Control.”
Sebagaimana yang disampaikan oleh Abdul Jamil, mahasiswa
merupakan social control.
Simulasi Aksi merupakan salah satu cara menjadi Social Control yang sebenarnya. Menyuarakan
kesenjangan-kesenjangan sosial, menyuarakan ketidakadilan untuk mendapatkan
perubahan.





0 comments:
Post a Comment