SEPUTAR PROFESI

"LPM PROFESI FTI UII Adakan Workshop Jurnalistik Sabtu (01/11)"

Untaian "Kata" PROFESI

Lembar berisikan berita milik PROFESI

SEPUTAR PROFESI

Pengrajin Gerabak sedang membakar karyanya agar kokoh.

Diskusi Bersama

Para Caleg (Calon Legislatif) KM FTI dalam acara Diskusi Bersama oleh LPM PROFESI

Pekan Taaruf FTI UII 2014

Suasana Pekan Taaruf (Pekta) 2014 di lingkungan FTI UII.

1/16/15

Ironi Antini, Penjual Jasa Ketik Manual

“Dididik oleh situasi sehingga saya jadi perempuan mandiri, saya harus berjuang agar anak-anak bisa makan makanan yang halal, mungkin sekarang serba susah, tetapi insya Allah ke depannya saya yakin lebih baik”

FOTO: Tantowi/PROFESI “Antini, saat sedang menunggu pencari jasanya
di Jalan Colombo Depan Kampus UNY”



            Antini (43) adalah seorang wanita paruh baya yang menjual jasa ketik manual di era teknologi yang sudah serba maju dan canggih. Menjadi penjual jasa ketik bukan baru saja dilakoninya, ia sudah menggeluti pekerjaannya sejak tahun 1991. Saat itu ia baru menuntaskan sekolahnya di bangku SMK –dulu disebut SMEA– yaitu di SMK NEGERI 1 Bantul.Sebelum punya jasa ketik manual sendiri, Antini bekerja selama satu tahun di penyedia jasa ketik orang lain. “Tahun 1992 saya pertama kali buka jasa di depan Auditorium RRI selama empat tahun lebih, setelah itu baru pindah di pertigaan Jalan Colombo,” tutur Antini sembari tersenyum. Karena pelanggannya tidak banyak lagi, wanita yang memiliki dua anak ini pindah ke depan Gedung Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta sambil kerja di kios buah sebelah jasa ketiknya demi mencukupi kebutuhan dua orang anaknya.
            Wanita yang tinggal di Dusun Ngincep, kelurahan Triwidadi, kecamatan Pajangan, Bantul ini membuka jasa ketiknya mulai pukul 09.00-18.00 dari Senin sampai Sabtu. Antini mengaku senang dengan pekerjaannya, “jujur saya senang dengan pekerjaan ini, karena bisa dapat uang, dapat teman dan pengetahuan baru,” kata Antini. Pada tahun 1997 teman-teman sesama tukang ketik banyak yang beralih profesi karena semakin hari seiring dengan kecanggihan teknologi komputer‎, membuat pendapatan mereka semakin menurun. “Ada yang buka laundry, kerja di pabrik, ada Pak Ali yang sekarang jualan degan, saya aja yang bandel,” ujar Antini sambil tertawa. Antini juga sering ditanyai teman-temannya karena masih bertahan dengan pekerjaannya ini.
            Kalau ramai Antini bisa mengantongi Rp 30.000-50.000 per hari. Untuk tarif pada jasa ketiknya dikenakan biaya rata-rata Rp3000-5000 per lembarnya.  "Dulu, harga ketik 1 lembar Rp 700 rupiah, saat itu mahasiswa kan ngetik skripsi, transkrip nilai masih pakai mesin ketik‎,” ujarnya.
Pelanggan jasa ketiknya memang tak banyak lagi. Hanya ebberapa pelanggan saja yang masih menggunakan jasanya. Namun Antini tak mau patah semangat. “Dididik oleh situasi sehingga saya jadi perempuan mandiri, saya harus berjuang agar anak-anak bisa makan makanan yang halal, mungkin sekarang serba susah insya Allah untuk kedepannya saya yakin lebih baik,” pungkasnya.
(Tantowi Alwi)

1/12/15

KAHAM UII Peringati Humanity Day

“Momen awal tahun ini kami gunakan untuk berupaya dalam  meningkatkan pencegahan dan menghapuskan segala tindak kekerasan terhadap anak,”

Foto: Tantowi/PROFESI “saat berlangsungnya talkshow yang diadakan oleh UKM KAHAM UII”


Dalam rangka memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Desember, Unit Kegiatan Mahasiswa Klinik Advokasi dan Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (UKM KAHAM UII) mengadakan serangkaian acara pada tanggal 8-10 Desember 2014. Rangkaian acara yang diberi nama Humanity Day tersebut bersifat memberikan penyuluhan, sosialisasi serta pemahaman tentang Hak Asasi Manusia kepada mahasiswa.
Sebagai puncak dari rangkaian acara tersebut, UKM KAHAM UII mengadakan talkshow dengan tema “Peranan mahasiswa dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak” pada Sabtu (10/1/2015) di Gedung Kuliah Umum Kampus Terpadu UII. Acara yang dimulai pukul 09.45 WIB tersebut diawali dengan sambutan dari Ketua KAHAM UII yaitu Amjad Fauzan dan Edi Subagyo sebagai ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII. Kemudian perwakilan dari Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) UII juga memberikan sambutan sekaligus membuka acara talkshow tersebut.
 “Momen awal tahun ini kami gunakan untuk berupaya dalam  meningkatkan pencegahan dan menghapuskan segala tindak kekerasan terhadap anak,” ujar Amjad.  Dalam kesempatan ini, ketua LEM UII mengajak untuk bersama-sama mengampanyekan menolak tindak kekerasan terhadap anak. Perwakilan DPM UII juga menyampaikan bahwa kekerasan terhadap  anak sangat fundamental namun pengaruhnya sangat besar di masa depan.
            Menurut data (Sumber: Liputan 6 SCTV) kekerasan terhadap anak di Indonesia meningkat 60% dari tahun 2012-2013. Terdapat 1620 kasus di tahun 2013, yang masing-masing 490 kasus kekerasan fisik, 313 kasus  kekerasan psikis, dan 817 kasus kekerasan seksual. Pelaku kekerasan terhadap anak itu sendiri adalah 24% keluarga, 56% sosial dan 17% sekolah. Karena banyaknya kekerasan terhadap anak di Indonesia, UKM KAHAM UII menggunakan isu tersebut serta peranan mahasiswa di lingkungan sosial untuk dijadikan tema talkshow dalam rangkaian acara Humanity Day.
            Talkshow yang diadakan UKM KAHAM UII menghadirkan dua pembicara yaitu Yadi Kasmorejo dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) DIY dan Andra Septian, seorang aktivis anak. LPA melalui Yadi Kasmorejo membeberkan setiap tahun ± 3.000.000 kasus aborsi di Indonesia, perceraian tidak kurang dari 200.000 kasus setiap tahunnya dan hampir setiap saat terjadi pembuangan bayi di DIY. “Semua kasus ini yang menjadi korban adalah anak-anak,” jelas Yadi. Menurut Yadi mahasiswa juga ikut menjadi pelaku dalam kasus-kasus tersebut. Dari segi fisik dan psikis anak-anak memang menjadi korbannya, contohnya saja anak-anak yang terlahir kurang sempurna, sebagian adalah hasil dari kegagalan percobaan aborsi sehingga ketika dilahirkan banyak yang fisiknya kurang sempurna. Dari segi psikis, banyak anak-anak melakukan perbuatan amoral dan perilaku menyimpang dikarenakan orang tuanya bercerai. Andra Septian mengatakan dari segi psikologis usia remaja berada pada tahapan untuk coba-coba, pengetahuan yang kurang serta secara emosional yang masih labil. “Rasa keingintahuan sangat kuat tapi tidak dibarengi dengan pengetahuan yang cukup,” lanjut Andra.
            Di dalam Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 tentang Pemenuhan dan Perlindungan anak di Indonesia menjadi suatu acuan yang berfungsi sebagai penegas peranan negara dalam melindungi anak dari tindak kekerasan. Yadi mengungkapkan Negara belum menunjukkan perannya terkait upaya-upaya pencegahan kekerasan terhadap anak serta jaminan sosial untuk korban kekerasan terhadap anak. “Lembaga Perlindungan Anak selalu bermitra dalam mencari solusi permasalahan sosial, jarang sekali ke pemerintah karena terkendala birokrasi,” ungkap Yadi.
            Di penghujung acara, Andra berpesan apapun cara yang dipilih dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dari mahasiswa tetap harus dengan tujuan awal dan menjaga komitmennya. Di akhir pembicaraan, Yadi mengajak mahasiswa harus memberdayakan kecanggihan teknologi informasi agar semua ilmu dan informasi sampai ke seluruh lapisan masyarakat. (Oleh: Tantowi Alwi)

1/8/15

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Adakan Acara 9 SKS


“Mahasiswa ilmu komunikasi mengadakan pameran karya-karya kreatif mahasiswa”



Mahasiswa ilmu komunikasi mengadakan pameran hasil karya-karya mahasiswa ilmu komunikasi di Auditorium Kahar Muzakir kampus terpadu UII. Nama dari acara ini adalah 9 sks dan bertujuan untuk mengapresiasi karya-karya kreatif mahasiswa ilmu komunikasi. Acara yang berlangsung selama dua hari (6-7 Januari 2015) mengusung tema “Pameran Karya Mahasiswa Kreatif Komunikasi.”
Nama “9sks” lahir karena adanya tugas dari tiga mata kuliah yang masing-masing berjumlah 3sks dan diampu oleh dosen yang sama serta usulan dari prodi untuk memamerkan tugas-tugas tersebut. Berbagai rangkaian acara menjadi andalan pameran ini. Diantaranya, diskusi foto dokumenter, diskusi film dokumenter, dan karya media kreatif. “Sebenarnya yang kami utamakan pamerannya,” beber Reza selaku ketua panitia.
Acara yang dibuka oleh Arief Fahmi, Dekan Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya (FPSB) ini tidak berjalan dengan baik dikarenakan pada hari kedua acara (7/1) listrik dipadamkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk melakukan maintenance/pemeliharaan disekitaran UII sehingga pemutaran film dokumenter dibatalkan. “Tadi pagi sebenarnya sudah ada pemutaran film, tapi sebagiannya lagi terkendala oleh PLN yang melakukan pemeliharaan, sangat disayangkan karya teman-teman ada yang tidak dipamerkan,” lanjut Reza.
Pendanaan acara ini, Reza menuturkan disamping dana dari pihak sponsor, setiap panitia juga menyumbangkan sebagian uang mereka sebesar 100.000 rupiah. Sehingga acara ini free entry untuk umum alias gratis.

Tolak ukur kesuksesan acara ini tidak terlalu dipikirkan oleh Reza sebagai ketua panitia. “Karena ini baru pertama kali, jadi acara ini sudah jalan saja sudah cukup sukses bagi saya,” tutup Reza. (Oleh: Tantowi Alwi. Reportase bersama: Tri Retno)

1/6/15

Diskusi Terbuka Bersama Dekan FTI UII


Selasa (6/1), perwakilan lembaga kemahasiswaan FTI melakukan diskusi bersama Dekan FTI terkait masalah akademik dan fasilitas”


     Selasa (6/1), Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (DPM FTI) menyelenggarakan diskusi terbuka bersama perwakilan lembaga kemahasiswaan FTI dan Dekan FTI di ruang sidang 1 Dekanat. Agenda yang dilaksanakan pukul 14.00 WIB ini dilatarbelakangi oleh banyaknya mahasiswa FTI yang menyampaikan aspirasi ke DPM FTI terkait kinerja dosen, fasilitas yang menunjang kegiatan mahasiswa dan kualitas pelayanan dari divisi yang ada di FTI.
            Imam Djati Widodo selaku Dekan FTI menyambut baik kegiatan yang diadakan oleh Komisi II DPM FTI. “Entah itu tiga bulan sekali atau setengah tahun sekali bisa kita duduk bersama seperti ini, supaya kita tahu kegiatan-kegiatan atau keluhan-keluhan dari mahasiswa,” tutur Imam. Komisi II DPM FTI menyampaikan pula bahwa agenda ini terlaksana atas kerja sama Komisi II DPM FTI dan pihak Dekanat. “Semoga ada solusi dari keluhan teman-teman Himpunan Mahasiswa terkait masalah akademik dan fasilitas kampus,” ungkap Ita, Komisi II DPM FTI.
            Setiap pihak yang bersangkutan dalam diskusi terbuka ini pun memanfaatkan kesempatan ini dengan aktif, sehingga berbagai pertanyaan dan keluhan melalui perwakilan lembaga kemahasiswaan FTI dapat tersampaikan dengan baik kepada Dekan FTI. Ada tiga pembahasan utama yang dipersoalkan yaitu kinerja dosen, fasilitas yang menunjang kegiatan mahasiswa dan kualitas pelayanan dari divisi yang ada di FTI.

Kinerja dosen
Beberapa mahasiswa FTI cukup prihatin dengan adanya dosen yang acap kali tidak hadir, mengatur jadwal kuliah pengganti dan meliburkannya tanpa sepengetahuan sebagian mahasiswa. Mahasiswa Teknik Kimia menyayangkan adanya pengaturan jadwal kuliah pengganti lalu membatalkan secara sepihak, penyampaian informasi juga terlalu mepet serta hanya melalui sosial media sehingga ada sebagian mahasiswa tidak mengetahui informasi tersebut. Perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin (HMTM) juga mempertanyakan persoalan dosen yang memajukan jadwal Ujian Akhir Semester (UAS) di salah satu mata kuliah. Ragam keluhan tersebut ditampung dan beberapa langsung ditanggapi oleh Dekan FTI, terkait keluhan dari mahasiswa teknik kimia, Dekan FTI membeberkan kalau teknik kimia memang kekurangan dosen pengampu mata kuliah sehingga mempengaruhi kegiatan belajar dan mengajar. Perihal dosen dari teknik mesin yang memajukan jadwal UAS beliau beranggapan kemungkinan dosen tersebut pikirannya sudah terbagi-bagi karena harus mempersiapkan diri untuk melanjutkan kuliah S3 ke Belanda, sehingga opsi yang dipilih dari dosen tersebut dengan memajukan jadwal UASnya. Untuk kinerja dosen yang buruk, pihak dekanat mengadakan kuisioner ke mahasiswa untuk menjadi bahan evaluasi Kepala Jurusan. Pihak dekanat juga hanya melakukan teguran ke setiap dosen yang kinerja buruk, namun sanksi yang notabene adalah tindakan tegas, jarang sekali diterapkan.   

Fasilitas yang menunjang kegiatan mahasiswa
Perwakilan lembaga kemahasiswaan FTI juga mempertanyakan keadaan seluruh fasilitas di lingkungan FTI. Baik itu keadaan fasilitas yang ada di kantor kelembagaan, di laboratorium, dan di ruang kelas. Dekan FTI langsung merespon dengan cukup baik berkaitan dengan seluruh fasilitas di FTI, hanya saja di tahun 2014 terkendala dengan dana yang ada. “Silahkan saja disiapkan proposal pengajuan dananya, karena dekanat juga akan membuat rancangan anggaran yang baru,” ujar Imam.

Kualitas pelayanan dari divisi yang ada di FTI
DPM FTI juga menampung kekecewaan mahasiswa FTI terkait pelayanan terhadap mahasiswa dari beberapa divisi. Salah satunya yaitu aduan dari mahasiswa teknik kimia kepada DPM FTI bahwa ada pegawai yang pernah berbicara kasar ketika melayani mahasiswa. Menanggapi hal tersebut, Dekan FTI pun memberi teguran kepada pegawai-pegawai yang dinilai kurang ramah. (Oleh Tantowi Alwi)

1/5/15

Sistem “Jemput Bola” diterapkan UII Press

Baru kali ini kita harus mendirikan stan untuk mendistribusikan Al Qur’an, tahun-tahun sebelumnya stok selalu terpenuhi diregistrasi awal”

Senin (5/1), ada yang berbeda ketika masuk ke  gedung Fakultas Teknologi Industri (FTI)  melalui pintu timur, terdapat stan yang bertuliskan “Tempat pengambilan Al Qur’an Mahasiswa UII  Tahun 2014”. Stan yang didirikan oleh UII Press  ini tujuannya untuk mendistribusikan Al Qur’an untuk mahasiswa UII tahun 2014 yang seharusnya dibagikan ketika registrasi mahasiswa baru.
Keterlambatan pendistribusian Al Qur’an dikarenakan salah cetak dari pihak percetakan.  “Setelah kita sortir ternyata ada kesalahan dari percetakan, ada yang kebolak-balik, ada  yang  tanpa  tulisan,” ungkap Awan, karyawan UII Press  bagian marketing. Al Qur’an yang seharusnya  dibagikan ketika registrasi cukup membuat repot UII Press  karena harus menerapkan sistem “jemput bola” dengan mendirikan stan ke fakultas-fakultas . Untuk keefektifan distribusi, UII Press juga meminta bantuan divisi Akademik untuk menginformasikan ke mahasiswa FTI. “baru kali ini kita harus mendirikan stan untuk mendistribusikan Al Qur’an, tahun-tahun sebelumnya stok selalu terpenuhi diregistrasi awal,” Ujar Awan.
Jumlah Al Qur’an typo/kesalahan cetak juga tidak sedikit, ± 1500 eksemplar  yang harus dikembalikan dan diperbaiki ke percetakan. Jumlah ini sangat besar dari tahun kemarin yang hanya beberapa mengalami kesalahan cetak. Hal itulah yang membuat pendistribusian terlambat.

Awan juga berharap agar mahasiswa UII tahun 2014 dapat segera mengambil Al Qur’annya, bisa ke stan yang ada di FTI atau langsung ke kantor UII Press di jalan Cik Di Tiro. Stan di FTI akan berlangsung sampai Jumat (9/1) dari pukul 09.00-15.00 setiap harinya.  (Oleh: Tantowi Alwi)