SEPUTAR PROFESI

"LPM PROFESI FTI UII Adakan Workshop Jurnalistik Sabtu (01/11)"

Untaian "Kata" PROFESI

Lembar berisikan berita milik PROFESI

SEPUTAR PROFESI

Pengrajin Gerabak sedang membakar karyanya agar kokoh.

Diskusi Bersama

Para Caleg (Calon Legislatif) KM FTI dalam acara Diskusi Bersama oleh LPM PROFESI

Pekan Taaruf FTI UII 2014

Suasana Pekan Taaruf (Pekta) 2014 di lingkungan FTI UII.

6/2/16

Lahir Lagi, Antologi Karya Anak Negeri








 (Profesi/Retno) Buku Kontemplasi Aksara Hati karya Rhy Husaeni yang dilaunching pada 13 Mei 2016 di Knock Cafe, Jogjakarta.

Seiring dengan perkembangan zaman, media penyampaian tulisan pun semakin berkembang. Salah satunya ialah media sosial yang digunakan sebagai sarana penyampaian tulisan dalam berbagai bentuk. Jika dilihat dari jenis kiriman (posting) yang ada di duniamaya, pengguna memanfaatkan media sosial untuk berbagai keperluan.Media sosial digunakan sebagai penyaluran kreativitas, penyaluran hobi, bahkan digunakan sebagai media propaganda. Misalnya, dalam mediasosial instagram, banyak kiriman-kiriman yang bertuliskan lelucon maupun kata-kata bijak. Kita semua menyadari bahwa begitu banyak tulisan-tulisan yang disalurkan melalui media sosial.

Namun ternyata tulis menulis tidak sepenuhnya tergantikan oleh media sosial, masih ada pecinta-pecinta sastra yang melahirkan karya nyata dalam bentuk sebuah buku. Seperti buku karya pecinta sastra yang bertajuk “Kontemplasi Aksara Hati”.Buku antologi puisi yang baru saja dilaunching pada 13 Mei 2016 ini merupakanbuah karya Rhy Husaini. Seorang mahasiswa Teknik Mesin Universitas Islam Indonesia yang menjamah menjadi sastrawan muda, jika boleh dikata. Pada Jumat pekan ini, dilangsungkan launching bukunya yang kedua di Jogjakarta, berkerja sama dengan Knock Cafe sebagai tempat dilangsungkannya acara, Sembilan tiga proEvent Organizer dan Penerbit Mandala Pratama. Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan baik media, pihak umum, keluarga, dan mahasiswa dari berbagai latar belakang pendidikan. Diawali dengan monolog berupa pembacaan narasi dan diselingi pembacaan puisi. Selama Acara, ada empat buah karya puisi yang dibacakan. Pembaca keempat puisi berasal dari latar belakang berbeda-beda, bahkan pembaca puisi Jeritan Jalan Raya dan Kebenaran Hujan datang langsung dari daerah Tasik Malaya, Jawa barat,sebagai perwakilan komunitas kolaborasi puisi.

Melalui buku antologi puisinya, Rhy mengemas pesannya dalam dua sub judul yaitu Mengeja Jagad Raya dan Propaganda Cinta. Pada Mengeja Jagad Raya, Rhy menggambarkan kehidupan nyata tentang keluarga, tempat, bahkan sindiran politik. Sedangkan pada Propaganda Cinta, seluruhnya mengenai cinta dan segala tentangnya. Rhy menuturkan bahwa pada kedua sub judul itu menyuguhkan tentang dua budaya yang berbeda akan tetapi bersandingan. Budaya yang bisa diukur dengan rasionalitas dan nominal, dengan budaya mengenai romantisme dan cinta yang tidak dapat diukur dengan rasionalitas. “Disitu memang ada kesenjangan yang tidak bisa disatukan, tapi saya melalui seni kesusastraan ingin menyampaikan kepada orang-orang bahwa kedua hal ini harus kalian renungkan secara bersamaan,” terang Rhy.

Salah satu rangkaian acara launching adalah testimoni isi buku. Pengunjung memberikan testimoni dengan penilaiannya bahwa diksi yang dipilihnya bagus dan menarik. “Menarik, kita seperti diajak masuk kedalam kerangka berpikirnya. Tak sampai disitu saja, kita juga dibuat terhanyut alunan sajaknya seakan menikmati padahal mengalami. Luar biasa.” tutur Rizki, salah seorang yang menghadiri acara ini. 

Frida, kakak kandung Rhy yang datang dari Kudus menyatakan simpatinya atas buah karya yang dihasilkan sang adik. Ia menilai, titik kegalauan yang dialami sang adik dituangkannya pada sebuah cara yang benar, berupa karya antologi puisi. Selain itu, Farida juga berharap karya sastra Rhy tidak berhenti sampai disini saja tapi disusul dengan karya-karyanya yang lain.Baik Rhy sebagai penulis maupun rekan dan keluarganya memiliki harapan yang sama, sang penulis tetap melanjutkan berkarya dalam dunia sastra dan segera menciptakan karya selanjutnya.

5/14/16

Bangkitlah Pergerakan mahasiswa UII

Oleh : Surya Rhaditiya

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali" - Tan Malaka

Senin, tanggal 2 Mei 2016, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, terlihat pemandangan tidak biasa di lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII). Datangnya Gubernur Jawa Tengah -Ganjar Pranowo- dalam acara TvOne yaitu Suara Rakyat di UII disambut oleh sekelompok mahasiswa yang menamai mereka dengan Aliansi Mahasiswa Peduli Agraria (AMPERA). Mereka menyambut dengan melalukan aksi di lingkungan UII yang menuntut penyelesaian kasus-kasus  agraria di Jawa Tengah seperti di Urut Sewu, Rembang, Batang dan daerah lainnya.
adapun tuntutannya sebagai berikut :
1.Tolak Kedatangan Ganjar Pranowo di UII
2.Tolak intervensi politik praktis masuk ke kampus
3.Selesaikan konflik-konflik agraria yang ada di Jawa Tengah
4.Pemerintah sebagai aparatur negara harus bersikap membela rakyat dan berhenti melakukan tindakan represif ke rakyat dengan militernya dalam menangani konflik agraria
5.Tegakkan Undang Undang Pokok Agraria tahun 1960 dengan sebenar-benarnya, serta tegas memasukannya dalam politik negara.
              
        Terlepas dari tuntutan dari AMPERA, ada yang menarik  melihat pergerakan mahasiswa ini,  yaitu Alliansi ini sebagian besar terdiri dari berbagai elemen yang ada di UII ,seperti Lembaga Pers Mahasiswa  (LPM) se-UII, sebagian mahasiswa UII dari berbagai fakultas yaitu Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Teknik Sipil dan Perancangan (FTSP), Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMAPSI), organisasi  eksternal mahasiswa UII seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Teater Selaras, Teater 7 Garit, dan mahasiswa-mahasiswa UII yang peduli dengan isu agraria. Pergerakan ini seakan mengembalikan marwah UII, yaitu sebagai “Kampus Perjuangan”. Kampus yang tujuan akhirnya untuk mewujudkan generasi umat Islam sebagai umat terbaik yang tidak hanya cerdas secara intelektual namun juga mulia akhlaknya dan memiliki kepedulian.
              
           Melihat aksi ini, Pergerakan mahasiswa  UII yang “seakan mati” setelah runtuhnya rezim orde baru kembali bangkit. Hal ini terlihat dari berbagai perbedaan ideologi yang dianut masing-masing lembaga dan mahasiswa mampu melebur menjadi suatu aliansi yang memiliki satu suara yaitu “MEMPERJUANGKAN KEPENTINGAN RAKYAT”. Ini membuktikan bahwa mahasiswa di UII tidak hanya “terlalu asik” di dalam kampus dengan dinamikanya sendiri, tapi menunjukan bahwa Mahasiswa UII  jugamasih peduli dengan rakyat, rakyat yang berusaha memperjuangkan kehidupannya.

Fungsi Mahasiswa yang merupakan  Agent Of Change( agen perubahan), Social Control (Kontrol Sosial), Iron Stock (Harapan Masa depan bangsa) inilah yang harus kita terapkan dalam kehidupan kemahasiswaan kita. Sudah seharusnya kita sebagai mahasiswa memperjuangkan rakyat-rakyat yang tertindas oleh para penguasa, karena dari mahasiswa lah perubahan itu bisa tercapai. Fakta-fakta sejarah bangsa Indonesia menunjukan bahwa peristiwa sejarah tidak lepas dari peran mahasiswa sebagai aktor intelektualnya. Mahasiswa UIIpun turut ikut serta dalam peristiwa sejarah itu seperti Peristiwa pada tahun 1968-an, kasus Malari (Malapetaka Lima Belas Januari), dan Peristiwa runtuhnya Orde Baru 1998.

Tak bisa dipungkiri bahwa isu dan peristiwa yang terjadi sekarang tidak segenting dan semenarik pada saat zaman orde lama dan orde baru. Hal ini membuat sebagian mahasiswa “sibuk” dengan kepentingan-kepentingannya sendiri dan seakan hilang daya cengkramnya. Tapi ketika kita melihat kembali fungsi mahasiswa, maka tidak ada alasan bagi kita para mahasiswa apakah itu isunya menarik atau tidak, atau seberapa genting isu yang ada. Selama untuk kepentingan rakyat maka tugas kita lah para mahasiswa sebagai kaum Intelektual untuk memperjuangkannya.

 Pada zaman sekarang, zaman reformasi, kita sebagai mahasiswa era reformasi patut bersyukur karena kita tidak harus berjibaku dengan berendelan peluru dari aparat negara yang mati hati nuraninya. Oleh karena itu, manfaatkan lah keadaan ini kawan!. kita hanya perlu berjibaku dengan keapatisan kita, keapatisan tentang kesejahteraan rakyat. Dan di era modern ini, dimana kebebasan pendapat sangat di junjung, maka perjuangkanlah keadilan rakyat dengan melakukan berbagai cara yang kalian anggap benar.

Kembali ke aksi yang dilakukan oleh kelompok AMPERA,  banyak stigma-stigma yang mengatakan bahwa aksi yang dilakukan sudah tidak relevan dengan keadaan zaman sekarang yaitu era keterbukaan. dan sudah banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyalurkan aspirasi. tapi yang ingin saya sampaikan, menurut saya aksi masih relevan ketika aksi ini bertujuan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Menilik kondisi sekarang dimana sangat langka (atau bahkan tidak ada) orang yang menentang penindasan terhadap rakyat tersebut. Cara aksi ini pun masih cukup efektif dalam menggiring Isu kerakyatan, apalagi ditengah korporasi media yang ada di Indonesia, membuat masyarakat digiring oleh isu-isu yang oleh media dianggap menarik.

Untuk mahasiswa UII yang beranggapan aksi sudah tidak relevan, maka tunjukanlah kawan bahwa kalian mempunyai solusi yang lebih baik dan konkrit dari aksi yang telah dilakukan oleh kelompok AMPERA  dalam memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas. Bukan cuma mengkritik, tapi keluarkanlah solusi-solusi brilian dengan berbagai cara yang kalian anggap relevan melalui  terapan ilmu yang kalian dapatkan di ruang kelas ataupun softskill yang kalian dapatkan di organisasi kampus. karena rakyat tidak menuntut kalian harus memperoleh banyak prestasi akademik, tapi dengan mengimplementasikan ilmu yang didapat di kampus untuk mensejahterakan rakyat, bukan “mengibuli” rakyat. Mengutip dari Wakil Rektor III, Abdul Jamil “mahasiswa UII seharusnya membela rakyat yang butuh dibela”.

Untuk pergerakan mahasiswa UII selanjutnya marilah bersama-sama memperjuangkan kepentingan rakyat, lupakanlah sejenak  dari lembaga, organisasi atau fakultas mana kalian berasal. tapi ingatlah kawan bahwa kita semua berasal dari satu almamater yaitu Universitas Islam Indonesia, dan satu tujuan yaitu “peduli akan kesejahteraan rakyat”. karena kita merupakan mahasiswa.


*penulis merupakan Mahasiswa Teknik Kimia 2013 

4/29/16

Mempertanyakan Sikap terhadap Kedatangan Ganjar Pranowo

Aksi memasung kaki dengan semen yang dilakukan oleh sembilan ibu asal pegunungan Kendeng di depan Istana Negara. (sumber : Antara) 

Oleh : Tantowi Alwi


Tak pernah terlintas dalam hati untuk melupakan aksi suci para ibu-ibu petani asal Jawa Tengah, yang berlangsung di depan istana merdeka, Jakarta. Aksi menyemen kaki yang dilakukan ibu-ibu pegunungan kendeng ini untuk mengetuk hati Presiden Jokowi. Tujuannya apa? Agar Presiden Jokowi mau membicarakan pendirian pabrik semen yang mengancam keberlangsungan hidup para petani di Kendeng, Rembang, Pati, Blora, dan Grobogan, Jawa Tengah.

Sudah banyak referensi bacaan dan tontonan yang berkaitan dengan apa alasan dibalik perjuangan ibu-ibu pegunungan kendeng. Tapi ada pertanyaan sederhana yang muncul, kenapa aksi menyemen kaki dilakukan di Jakarta? Padahal masih ada kepala daerah yang lebih tepat untuk menjadi sasaran “suara rakyat” dalam hal ini ibu-ibu petani asal Jawa Tengah tersebut. Terlihat ada krisis kepercayaan terhadap pemimpin daerah. Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah sudah sepatutnya menjadi orang pertama yang mendengar suara-suara pencari keadilan di Jawa Tengah. Saya masih ingat pernyataan salah satu kesembilan ibu yang melakukan aksi menyemen kaki, Rib Ambarwati “Gunung itu sudah lestari, tidak ada semen kami sudah sejahtera. Jadi bagi kami lebih sakit ada pabrik semen, daripada sakit dipasung seperti ini”.

Menanggapi persoalan konflik agraria di Jawa Tengah. Bagaimana sikap kita (sebagai manusia merdeka dan mahasiswa UII) terhadap kedatangan Ganjar Pranowo ke UII? Saya rasa banyak mahasiswa UII sudah mengetahui kedatangan Ganjar Pranowo pada tanggal 2 Mei di acara Suara Rakyat yang diselenggarakan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Total ada 1000 lebih peserta yang akan mengikuti agenda tersebut.

Mengutip dari KH Abdurrahman Wahid “agama jangan jauh dari kemanusiaan”. Saya juga masih ingat perkataan Abdul Jamil, Wakil Rektor UII di sebuah acara diskusi kantin mawar UII, ia mengatakan “mahasiswa UII seharusnya membela rakyat yang butuh dibela”. Abdul Jamil yang juga alumni UII menceritakan sudah dari dulu mahasiswa UII dicekoki untuk menegaskan keberpihakan kepada rakyat yang mesti dibela. Tetap pada pertanyaan tadi, bagaimana sikap kita sebagai mahasiswa UII terhadap tamu besar (Ganjar Pranowo) yang bertamu ke UII? Tentunya sikap tersebut seharusnya tidak melepaskan persoalan dan PR dari Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah. Kalau saya boleh menjawab sebagai sikap manusia merdeka, saya ingin menggaungkan suara masyarakat pegunungan kendeng sampai ke UII, kawan. Lantas apa sikapmu?

4/12/16

Bakti Sosial HMTI 2016


Foto: Johan(Profesi)/Belajar bersama anak-anak SD Muhammadiyah 2 Pakem(Kiri), Bahu-membahu serta gotong royong warga dalam merenovasi masjid(Kanan)

            Kegiatan bakti sosial merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat. Himpunanan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) melaksanakan salah satu program kerja (proker) bidang Rumah Tangga dan Pengabdian Masyarakat dengan melaksanakan kegiatan bakti sosial. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 2-4 April 2016 tersebut berjalan sesuai rencana dengan melibatkan seluruh mahasiswa HMTI termasuk Lembaga Pers Mahasiswa fakultas Teknologi Industri. Bentuk kepedulian ini dilaksanakan di SD Muhammadiyah 2 Pakem serta melaksanakan pengajian sekaligus renovasi masjid di desa Turgo.

            Latar belakang pengadaan bakti sosial yang diselenggarakan oleh HMTI yakni meningkatkan rasa kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat. Ketua Bakti Sosial HMTI 2016 yaitu Bima Baranza mengatakan bahwa sekarang masih kurangnya rasa kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat khususnya rasa peduli dari mahasiswa Teknik Industri, peduli dalam aspek apapun mulai dari peduli ekonomi, sosial, hingga kepedulian terhadap nilai ibadah. Dari pihak HMTI melayani mahasiswa Teknik Industri yang ingin menyalurkan bantuannya untuk kegiatan Bakti Sosial. Hal ini dilakukan karena masih banyak mahasiswa itu sendiri yang masih bingung bagaimana cara menyalurkan bantuannya untuk masyarakat.
Tujuan utama dari Bakti Sosial adalah untuk menciptakan rasa peduli mahasiswa terhadap masyarakat sekitar, entah itu dalam bentuk donatur maupun relawan tenaga. Harapannya setelah pelaksanaaan Bakti Sosial HMTI 2016 yang dilaksanakan selama 2 hari saja oleh HTMI, kegiatan ini menjadi kegiatan rutin yang dilaksanakan dari pihak HMTI. Seperti kegiatan rutin dalam pengabdian masyarakat di desa Turgo yang dilaksanakan satu minggu sekali.
Desa Turgo menjadi tempat destinasi Bakti Sosial HMTI 2016 karena masih kurang kesadaran warga sekitar Desa Turgo terhadap nilai ibadah yang bisa dibilang masih apatis.  Warga sekitar desa tersebut masih kurang kesadaran akan datang ke masjid Jumadil Qubro yang berada di Desa Turgo. Pihak HMTI dalam acara bakti sosial 2016 ini bekerjasama dengan berbagai pihak internal yaitu dari pihak Lembaga Pers Mahasiswa FTI UII sebagai media bukti bahwa bantuan mereka benar-benar sampai dan tidak diselewengkan. Lalu ada pihak dari Entrepreneur Class yang menjadi relawan sekaligus menyalurkan bantuan. Dana untuk Bakti Sosial HMTI 2016 adalah dari donatur para mahasiswa itu sendiri, dari link-link mereka dalam membeli material yang berupa potongan harga maupun gratisnya biaya transport. Dari panitia Bakti Sosial juga melakukan pengumpulan dana dengan membawa kotak dana yang dilakukan selama 2 minggu sebelum acara Bakti Sosial berlangsung. 

Kegiatan baksi Sosial yang dilaksanakan selama dua hari diawali dengan kunjungan ke SD Muhammadiyah 2 Pakem. Disana HMTI melaksanakan kegiatan bermain bersama serta belajar bersama anak anak, pembersihan SD, penyerahan bantuan seperti meja, alat tulis, karper dan juga berfoto bersama dengan siswa dan guru yang mengajar di SD tersebut. Kegiatan bermain dan pembersihan ini diharapkan dapat mewujudkan eratnya tali silaturahmi dan lingkungan disekitar menjadi lebih nyaman dan bersih karena dengan lingkungan bersih semua kegiatan terasa segar, ujar salah satu guru di SD Muhammdiyah 2 Pakem berinisial DN. 

            Setelah mekasanakan kegitan kunjungan di SD Muhammadiyah 2 Pakem, kegitan Bakti Sosial ini berlanjut menuju pemukiman desa Turgo yang menjadi puncak destinasi acara baksi sosial ini. Panitian beserta relawan bakti sosial HMTI 2016 selama kegiatan berlangsung menepat di rumah ketua RT. Kegiatan malam hari di hari pertama yakni dengan melaksanaka pengajian bersama warga sekitar dsa Turgo. Dengan pengadaan pengajian ini diharapkan warga sekitar sadar bahwa ibadah merupakan sebuah pendoman yang baik untuk kehidupan kita sehari-hari khususnya untuk Desa Turgo itu sendiri ujar Bima Baranza selaku ketua acara Bakti Sosial HMTI 2016.

            Hari kedua kegiatan bakti sosial ini merupakan hari puncak acara dari kegiatan ini. Kegiatan yang laksanakan adalah bergotong royong dalam merenovasi masjid Jumadil Qubro desa Turgo. Acara ini dimulai pada pukul 08.00 WIB yang diawali dengan sambutan dari panitian bakti sosial dan bersosialisasi dengan warga desa Turgo. Warga sangat antusias dalam kegiatan renovasi masjid ini. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, warga desa Turgo menjadi lebih peduli dengan nilai ibadah serta peduli untuk datang ke tempat ibadah untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa ujar salah satu warga desa berinisial (B). Serta memotivasi warga sekitar untuk dapat lebih meningkatkan kedatangannya ke masjid untuk Ibadah dan juga orang lain maupun dari Desa Turgo itu sendiri yang ingin beribadah di masjid tersebut lebih nyaman dan aman sehingga ibadah lebih khusyu’ ujar Bima Baranza selaku Ketua Bakti Sosial 2016.

3/22/16

SUPLeMEN - Maret


Telah menjadi rahasia publik bahwa kegiatan Malam Keakraban (Makrab) digadang-gadang bertujuan untuk mengakrabkan mahasiswa dengan sesama angkatan maupun dengan seniornya, memperkenalkan mahasiswa baru dengan fakultas, jurusan, dan himpunan.
Namun satu persatu pelaksanaan Makrab jurusan justru menemui polemik. Berawal dari adanya perbedaan pandangan mengenai Makrab dari pihak dekan, jurusan, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) hingga munculnya berbagai bentuk kesepakatan maupun peraturan yang mengatur Makrab.
Legalitas pelaksanaan Makrab pun patut dipertanyakan. Mengingat tidak adanya peraturan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) yang mengatur secara jelas pelaksanaan Makrab. DIKTI telah mengatur perihal Panduan Umum Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru. Lalu apakah Makrab yang diadakan selama ini termasuk di dalam kegiatan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru?
Makrab juga disinyalir sebagai ajang perpeloncoan senior terhadap juniornya. Dikemas sebagai kegiatan pelatihan mental mahasiswa, apakah bentuk kegiatan ini hanya kamuflase semata dari aksi perpeloncoan?
Sebagai program kerja HMJ, tentunya pihaknya bertanggung jawab dalam perancangan sistem Makrab. Selanjutnya pihak LEM dan DPM wajib memastikan bahwa konsep Makrab telah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Secara tidak langsung, alumni pun ikut andil dalam pelaksanaan Makrab di jurusannya masing-masing.
Namun, pada akhirnya pelaksanaan Makrab memang akan berujung pada pertanyaan klasik mengenai seberapa penting pelaksanaan Makrab. Apakah dengan mengikuti Makrab, mahasiswa mendapatkan manfaat nyata atau bahkan justru terbebani? Sudah sepantasnya kegiatan ini dilihat dari berbagai sudut pandang.

Klik! Suplemen Maret